News Ticker

Menu

Search This Blog

Powered by Blogger.

About Me

My photo
Komunitas kreatif yang bergerak di bidang riset, jurnalisme, desain, dan komunikasi marketing. Integritas dan profesionalisme kami bisa dilihat pada topik dan cara penyajiannya pada situs-situs atau blog yang kami kelola. Sesimple itulah kami.

Browsing "Older Posts"

Sapi Dengan Tanduk Panjang dan Besar

Friday, February 17, 2012 / No Comments
Jika Selama ini kita di Bali hanya sering melihat Sapi Bali atau mangkin Sapi perah Jenis Friesian Holstien (FH) atau mungkin jika kita pernah membaca artikel kami sebelumnya mengenai "Mengenal Aneka Sapi di Dunia" disana termuat aneka sapi yang ada di dunia ini. namun pada kesempatan kali ini kami akan membahas sapi-sapi yang memiliki tanduk yang panjang dan tanduk yang besar dan sudah tentu ini sebuah artikel yang unik.

Biar tidak terlalu panjang penjelasannya, maka kita akan bahas satu-persatu sapi-sapi yang memiliki tanduk yang panjang dan tanduk yang besar sebagai berikut.

1. Texas Longhorn

Texas Longhorn adalah ternak sapi yang terkenal karena karakteristik tanduknya yang dapat mecapai panjang hingga 2,1 Meter WOW sapi yang luar biasa. Tanduk yang dimiliki sapi ini dapat berbelok ke atas sedikit di ujung. Sapi Jenis Texas Longhorns terkenal dengan warna mereka yang beragam, berikut foto-foto mereka ini yang begitu menakjubkan.


Pejantan Texas Longhorn dengan warna merah - di padang gembalaan

Pejantan Texas Longhorn dengan Warna Putih Bercorakkan merah - di padang gembalaan 

Pejantan Texas Longhorn dengan Warna Merah Bercorakkan Putih - di padang gembalaan  

Pejantan Texas Longhorn dengan Warna Merah Bercorakkan Putih - di padang gembalaan   

Pejantan Texas Longhorn dengan Warna Full Corak - di padang gembalaan   

Pejantan Texas Longhorn dengan Warna Hitam dan Putih - di padang gembalaan   



2. Ankole Watusi

Ankole-Watusi adalah jenis ternak awalnya berasal dari Afrika. Tanduknya besar adalah ciri khas yang dimilikinya, besar tanduknya yang dapat mencapai hingga 8 kaki (2,4 m) dari satu ujung ke ujung, digunakan untuk pertahanan. Ankole-Watusis tinggal di sabana dan padang rumput yang terbuka, makanan mereka terdiri dari rumput dan daun. Binatang ini kadang-kadang dikenal sebagai Ankole atau Watusi.

Binatang Ankole-Watusi ini mampu bertahan dalam cuaca yang buruk, makanan dan minuman yang terbatas, Kemampuan bertahan hidup ini telah memungkinkan mereka seperti yang berkembang biak untuk tidak hanya bertahan hidup berabad-abad di Afrika tetapi untuk menjadi mapan di Eropa, Amerika Selatan, Australia dan Amerika Utara. 

Dua individu Ankole-Watusi dalam Guinness World Records telah terdaftar untuk kategori tanduk terbesar untuk banteng dan mengarahkan masing-masing. Banteng, bernama "CT Woodie". yang memiliki tanduk yang diukur 40.75 inci (103.5 cm) di sekitar pada tanggal 20 September 2004. Seekor sapi , bernama "Lurch", memiliki tanduk dengan ukuran 37.5 inci (95 cm) di sekitar pada 6 Mei 2003.

berikut foto-foto mereka ini yang begitu menakjubkan :


dan berikut kehidupannya di linngkungan penangkaran :



3. Hungarian Grey

Sapi Hongaria Grey atau lebih dikenal dengan stepa Hongaria (dalam bahasa Hongaria: Magyar szürke szarvasmarha) adalah jenis ternak sapi lama dari Hungaria. Berkembang biak dengan sistem berkelompok dan sangat baik diadaptasi untuk sistem padang rumput yang luas. ternak sapi ini Itu berasal dari dataran rendah-Hongaria.

Sapi Hongaria Grey adalah ternak yang ramping dan tinggi. Pejantannya mencapai ketinggian 145 hingga 155 cm dan berat 800-900 kg, Sedangkan betina mencapai 135-140 cm dan berat 500 hingga 600 kg. Dengan warna putih keperakan untuk ternak dewasa. sedangkan untuk yang pedet dilahirkan dengan bulu kuning kemerahan. Greys Hongaria adalah sapi yang kuat, bersahaja, dan tanduk yang panjang. Tanduk mereka diarahkan ke atas dengan panjang dan melengkung.
Diperkirakan telah Berkembang biak pada abad ke-9 imigrasi Hongaria dari Timur ke dataran rendah-Hongaria, pada abad pertengahan dan awal zaman modern sudah berkembang biak dan digunakan sebagai hewan pekerja tetapi dari tahun 1861 telah diternakkan untuk sapi potong pedaging, di eksport ke pasar Eropa. 

Saat ini Sapi Hongaria Grey di ternakkan ditempat wisata di Hortobágy taman nasional dan taman nasional lainnya di Hongaria. Kawanan kecil dapat ditemukan di beberapa  tempat, misalnya Bocfölde, Hongaria Barat. 

Sebenarnya Masih Ada lagi sapi-sapi yang memiliki tanduk menakjubkan, namun akan kami bahas lebih lanjut dalam halaman tersendiri.

Kendaraan Angkut Bagi Petani

Monday, February 13, 2012 / No Comments
Adalah sebuah impian bagi petani kecil untuk memiliki sebuah mobil sebagai kendaraan angkut hasil panen para petani, namun apa daya...! Tangan tak sampai, harga mobil jauh melambung, sedangkan harga produk petani kita tak menentu, terkadang jauh terkubur selayaknya nasib mereka yang harus mengubur jauh-jauh harapan untuk punya mobil.
Bagi para petani yang kreatif mereka tidak mesti mengubur dalam-dalam impian mereka membeli mobil dan kendaraan angkut hasil pertanian mereka, mereka memanfaatkan segala peluang yang ada, mulai dari alat transportasi tradisional yang tidak menggunakan tenaga mesin misalnya dengan menggunakan gerobak sapi, gerobak atau cikar dari kerbau, hingga dengan bantuan tenaga mesin hasil modifikasi para petani.

I. Alat Transportasi Angkutan Tradisional Petani
Berikut Angkutan Tradisional yang masih digunakan oleh para petani di Indonesia.

Penggunaan hewan sebagai sarana angkutan para petani seperti kuda, Sapi dan bahkan Kerbau hingga kini masih dipergunakan oleh para petani kita dalam mengangkut hasil panen mereka, biasanya mereka menggandengkan dengan gerobak untuk ditarik oleh hewan-hewan ternak tersebut.

Penggunaan alat transportasi tradisonal yang menggunakan tenaga mekanik tanpa mesin yang semi moderen juga masih sering kita jumpai dipergunakan oleh para petani kita seperti penggunaan pedati, becak, sepeda gayung hingga becak lawu yang mirip mobil seperti gambar diatas. 

II. Alat Transportasi Angkutan Modern Petani
Berikut Angkutan Tradisional yang masih digunakan oleh para petani :
1. Hand Traktor Sebagai Alat Angkut Hasil Pertanian

Penggunaan hand traktor sebagai kendaraan angkut oleh para petani sudah sering sekali kita lihat, hal ini mulai terjadi disaat-saat mesuknya mekanisasi dalam dunia pertanian dengan menggunakan mesin-mesin pertanian. Hal ini merupakan sebuah kreatifitas yang dimiliki oleh para petani ditengah keterbatasan ekonomi mereka, Traktor yang pada umumnya digunakan untuk membajak sawah kini dengan sedikit lebih kreatif para petani tinggal menggantikan roda traktor mereka dan menggandengkannya dengan gerobak, maka taraaaa...! jadilah sebuah alat angkut hasil pertanian bagi para petani.

2.  Ledhok/Gerandong sebagai Alat angkut hasil pertanian

Penggunaan Ledhok/Gerandong sebagai Alat angkut hasil pertanian Sering sekali kita jumpai terutama di wilayah sentra-sentra pertanian, kendaraan ini merupakan hasil kreatifitas dari para petani dan bengkel las bubut yang ada, dengan mengolah limbah bekas chasis kendaraan bermotor, kemudian mereka tempeli dengan mesin diesel mulai dari 8,5 PK hingga 26 PK sesuai dengan kebutuhan. Alat angkut ini tidak memiliki surat-surat kendaraan bermotor selayaknya mobil lainnya. Mungkin inilah salah satu "Mobnas" bagi para petani kreatif.

3. Traktor Rakitan

Penggunaan Traktor Rakitan sebagai Alat angkut hasil pertanian ini sangat mirip dengan Ledhok atau gerandong yakni sama-sama hasil rakitan dari barang-barang bekas, kemudian bisa digandengkan dengan gerobak.

4. Kendaraan Motor Roda Tiga

 Penggunaan Motor Roda Tiga Rakitan sebagai Alat angkut hasil pertanian ini juga merupakan hasil kreatifitas para petani, namun kini telah banyak beredar kandaraan roda tiga hasil pabrikan ATPM.

5. Sepeda Motor
 
Sepeda Motor ini dimuati beban yang begitu banyak dari hasil pertanian para petani


6. Mobil Pick-up

Mobil ini merupakan hasil rancangan dari putra-putri bangsa indonesia yang nantinya akan menjadi salah satu "mobnas" yang merupakan kendaraan angkut murah bagi petani indonesia, namun mobil ini hingga kini belum menampakkan diri di pasaran karena masih dalam embrio, kita tunggu saja kehadiran mobil nasional yang katanya murah ini.

Leluhur Sapi Bali di Habitat Aslinya

Thursday, February 9, 2012 / No Comments
Sapi Bali (Bos sondaicus) yang dikenal saat ini merupakan salah satu bangsa sapi asli dan murni Indonesia, yang merupakan kekayaan genetik (Flasma Nutfah) indonesia, sapi bali merupakan keturunan asli banteng (Bibos banteng) dan telah mengalami proses domestikasi yang terjadi sebelum 3.500 SM, dimana Sapi Bali asli mempunyai bentuk dan karakteristik sama dengan banteng. Hingga kini dalam bahasa bali alus nama sapi bali disebut "BANTENG" (*dalam Bahasa Bali ALUS) Oleh Orang-orang Bali. Keberadaan banteng (Bos javanicus) di habitat aslinya hingga kini tinggal di bebrapa taman nasional diantaranya : Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Meru Betiri, Taman Nasional Bali Barat, Taman Nasional Alas Purwo dan Taman Nasional Baluran menjadi pertahanan terakhir hewan asli Asia Tenggara ini. Secara Ilmiah Sapi Bali di Klasifikasikan sebagai berikut :

Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mammalia
Ordo : Artiodactyla
Famili : Bovidae
Upafamili : Bovinae
Genus : Bos
Spesies : B. javanicus
Nama binomial : Bos javanicus
Sapi Bali yang kita kenal saat ini telah melalui mengalami proses domestikasi, Apa itu domestikasi...?.  

Domestikasi merupakan pengadopsian tumbuhan dan hewan dari kehidupan liar ke dalam lingkungan kehidupan sehari-hari manusia. Dalam arti yang sederhana, domestikasi merupakan proses "penjinakan" yang dilakukan terhadap hewan liar. Perbedaannya, apabila penjinakan lebih pada individu, domestikasi melibatkan populasi, seperti seleksi, pemuliaan (perbaikan keturunan), serta perubahan perilaku/sifat dari organisme yang menjadi objeknya. 
Kembali kepada habitat asli nenek moyang sapi bali ini di beberapa taman nasional yang ada, semakin hari habitat asli banteng ini semakin terdesak oleh manusia, sehingga tidak jarang sering terjadi perlawanan antara banteng dengan penduduk sekitar yang mendesak habitat para banteng ini.

Keberadaan nenek moyang Sapi Bali yang dikenal sangat tahan terhadap kondisi extreme lingkungan tempat tinggal mereka. Di habitat aslinya, mereka ini sangat agresive sekali. Jadi jangan harap bisa lolos dari tandukan mereka jika mereka sudah mulai mencium atau mendengar kehadiran kita di dekat mereka.

Dengan agresivitas mereka yang sangat tinggi. Sangatlah tidak mengherankan kalau sering sekali terjadi konflik antara mereka dengan para penduduk di sekitar. Dalam konflik tersebut, bahkan tidak jarang, jatuh korban luka-luka yang cukup serius ketika kawanan Banteng ini menyerbu pemukiman penduduk.

 Di habitat aslinya Banteng hidup dari rumput, bambu, buah-buahan, dedaunan, dan ranting muda. Banteng umumnya aktif baik malam maupun siang hari, tapi pada daerah pemukiman manusia, mereka beradaptasi sebagai hewan nokturnal. Banteng memiliki kecenderungan untuk berkelompok pada kawanan berjumlah dua sampai tiga puluh ekor. 
Inilah foto-foto banteng nenek moyang sapi bali di habitat aslinya :

Banteng di habitat aslinya bersama anggota kelompoknya

Banteng di habitat aslinya bersama Anaknya yang gagah berani


Banteng di habitat aslinya bersama kelompoknya dan anaknya yang mulai dewasa

Banteng di habitat aslinya bersama anaknya yang masih kecil

Rentenir Berdasi Masuk Pelosok Desa

/ No Comments
Diantara kita mungkin saja suatu saat ketika berjalan-jalan di kota, biasanya dipinggir jalan atau di sebuah tiang listrik pernah melihat suatu Pamflet kertas hasil foto copy-an yang di tempel dengan bertuliskan "BUTUH DANA CEPAT.....!, GADAIKAN BPKB SEBAGAI JAMINAN 1 HARI LANGSUNG CAIR" Lengkap dengan Nomor Telpon yang bisa di hubungi. Pemandangan ini sudah sangat sering kita saksikan, pamflet yang mengotori pemandangan dijalan, tiang listrik hingga tembok-tembok yang berada di pinggir jalan. Bagi anda yang sering membaca koran dan otak atik pada rubrik iklan, sering juga kita temui tulisan seperti diatas, apalagi di dunia maya, dunia digital melalui media internet tak luput juga dari iklan ini.
Suatu ketika di pelosok desa kami, pernah kami lihat anak-anak muda berpakain rapi selayaknya pegawai bank masuk hingga kepelosok desa menyasar warung-warung yang ada di desa kami dengan fasihnya menawarkan sebuah kredit harian kepada pedagang yang di jumpainya. Dalam benak pikiran saya sungguh ironis memang bila kita bandingkan dengan pegawai bank yang pada umumnya cenderung fasif dalam mencari nasabah jika dibandingkan dengan Pegawai tadi. Sungguh Aneh juga jika kita bandingkan dengan BANK pada umumnya dalam proses kredit cenderung ribet dan berbelit-belit walaupun sudah lengkap dengan agunan dibandingkan dengan pegawai tadi yang berani jamin 1 hari dana bisa langsung cair, terkadang untuk pinjaman yang masih dibawah 1 jutaan berani memberikan tanpa jaminan asal ada usaha seperti warung.

Telusur punya telusur akhirnya setelah lama dapat berbincang-bincang bahwa pegawai tersebut mengatas namakan sebuah lembaga bernama "Koperasi Simpan Pinjam" dan ada juga Mengatas namakan Lembaga Keuangan "BPR". Melalui sebuah pembicaraan yang lama saya temukan hal yang menarik diantaranya : Untuk pinjaman kisaran dibawah 1 jutaan dengan tanpa agunan, maksimal pinjaman 40 hari dengan suku bunga 20%, dipotong biaya administrasi dan biaya profisi. Ketika saya mencoba menanyakan Badan Hukum (BH) maka pegawai yang mengaku dari sebuah lembaga KOPERASI tersebut belum memiliki BH. Kok Bisa Ya....!...????

Diawal biasanya masyarakat sangat tertarik sekali dengan tawaran jasa pinjaman ini, mengingat mereka yang memiliki usaha kecil-kecilan hingga menengah merasakan hal ini adalah sebuah angin segar dalam memperbesar modal usahanya demi kelancaran usaha mereka. Biasanya saking tertariknya dengan hitungan harian yang dirasa ringan mereka calon Debitur tanpa banyak perhitungan dan langsung memutuskan untuk menjadi nasabah.

Dalam hati kecil saya merasa mereka para nasabah "bank harian" ini selama ini benar-benar mengalami kesulitan permodalan, jika mereka mesti meminjam di BANK biasanya mereka terhambat oleh segala "tektek bengek" aturan birokrasi yang bagi mereka sangat sulit, dan mereka pelaku usaha kecil ini tidak akan mampu menyusun sebuah proposal LC selayaknya para pembobol bank yang selama ini terjadi.
Sungguh kasian memang pelaku usaha kecil ini begitu tawaran dari pihak "bank harian" langsung saja mereka sambar dan anggap sebuah angin segar.

Waktupun berlalu, singkat cerita transaksi yang tidak perlu ribet inipun tercapai, dan pihak "Bank Harian" inipun melalui kolektornya saban hari begitu rajin sekali menyambangi nasabahnya, ketika suatu saat pihak debitur mengalami masalah keuangan seperti orderan yang belum terbayar, atau sepinya pembeli maka berpengaruh pada telatnya pencicilan harian mereka dan pihak kolektor tidak ramah lagi mencak-mencak dan bahkan berkata tidak sopan selayaknya preman kampung.

Dari cerita diatas dapat dikatakan bahwa model "Bank Harian" yang berkedok koperasi ini sungguh layak bila kita sebut "Lintah Darat" atau "Rentenir Berdasi" kenapa...? bila kita lihat dari sisi asas dan tujuan Koperasi yang resmi hal ini sungguh menyimpang 180 derajat dari asas dan tujuan koperasi pada umumnya. Model rentenir berdasi ini layaknya pahlawan yang pada akhirnya menjerat leher nasabah mereka, sungguh kasihan mereka.

Untuk itu Kami selaku masyarakat kecil alangkah baiknya bila kita membangun sebuah lembaga keuangan mikro yang sejalan dengan asas perkoperasian sehingga memperkecil ruang gerak para "rentenir berdasi" ini hingga ke tingkat desa. Kedepan berdasarkan pengalaman buruk masalalu mestinya masyarakat desa lokapaksa mesti banyak belajar, belajar mentaati sebuah kesepakatan, belajar lebih berjiwa sosial membangun desa dengan segenap program yang ada, serta yang paling penting merubah "MIND SETS" menjadi masyarakat yang positif.


Untuk itu kami Kelompok Tani Ternak Pucak Manik bersama KOPTAN Werdhi Sadhana siap merangkul para pelaku usaha mikro yang "positif" dan para petani dalam membangun desa lokapaksa menjadi desa usaha, desa agribisnis, desa mandiri pangan dan energy dengan produk yang mampu menembus pasar global untuk kedepannya.
Untuk kedepan melalui Koptan Werdhi Sadhana akan mewakili desa lokapaksa sebagai lembagan keuangan bagi petani dan usaha kecil sehingga produk lokal yang dihasilkan mampu menembus pasar global.
Singkat Kata Melalui Koptan Werdhi Sadhana kita bangun desa lokapaksa dan memperkecil ruang gerak "rentenir berdasi", sekarang tinggal komitmen masyarakat desa lokapaksa yang lainnya diluar anggota yang telah bergabung, apakah kita terus dalama lingkaran dan jeratan rentenir apa sejenak kita meloncat keluar dari lingkaran kesusahan ini dengan coba merenung sambil memperbaiki sikap dan pola pikir negatif yang selama ini melekat, jika kita mau kenapa tidak...!, Kami saja dari masyarakat paling kecil di wilayah pelosok atas sudah melangkah, masak yang katanya lebih berpendidikan tidak mau..!

Petani Melek Teknologi Informasi

Tuesday, February 7, 2012 / No Comments
Di era moderen seperti sekarang ini yakni sebuah era yang sekarang disebut sebagai Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau dalam bahasa kerennya disebut era Information and Communication Technology (ICT) menjadikan dunia ini seolah-olah tanpa batas, tebaran informasi di dunia maya begitu berkembang sekarang ini. Dalam hal ini ada sebuah pertanyaan besar dalam benak kami, mungkinkah petani di bali melek Teknologi Informasi dan Komonikasi.........?

Jika kita telisik kebelakang sebentar mengenai kondisi para petani kita di bali yang di hadapkan dengan semakin kompleksnya permasalahan mulai dari sisi kesejahteraan petani hingga kepada derasnya gempuran produk import yang membanjiri pasar hingga membuat anjloknya harga produk petani lokal. Dari sisi latar belakang pendidikan para petani di bali sebagian besar adalah petani tua yang mulai dari yang sama sekali tidak mengenyam pendidikan atau bahkan hanya sampai pendidikan dasar, dan hanya sebagian kecil petani yang muda yang mengenyam pendidikan dari SLTP, SLTA atau bahkan S1.

Erat kaitan dengan pertanyaan besar diatas, dapat ditarik sebuah hipotesa bahwa petani-petani tua yang tidak mengenyam pendidikan dasar maupun lanjut yang keberadaanya sebagaian besar di bali hampir tidak mungkin mampu melek teknoloki informasi dan komonikasi seperti era sekarang, dan hanya sebagian kecil petani yang mampu mengakses dan melek teknologi informasi dan komonikasi.

Namun kali melalui sebuah artikel ini kami akan berbagi sebuah cerita nyata yang dengan harapan dapat memotivasi para petani lainya untuk bisa melek teknologi informasi dan komonikasi.
  
Gambar : Ketika 2 Orang Petani Beli Laptop
Adalah sahabat kami admin Kelompok Tani Ternak Pucak Manik, yakni seorang pionir Desa Sumberkima, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng-Bali yan bernama : bapak I Gede Kartika, Ketua Poktan Munduk Lingker Nadi yang sekaligus sebagai ketua Gapoktan desa Sumberkima. Sosok lugu wajah petani sejati yang berada di wilayah pinggiran berkomitmen membangun diri, membangun kelompok dan kini membangun desa, sebagai bukti bahwa mereka bukan orang pinggiran. Berdasarkan penuturan beliau, dulu beliau selalu merasa minder dan merasa tersisih mengingat keberadaan ekonomi yang minim dan latar belakang pengetahuan dengan pendidikan yang minim, serta
sering merasa tersisih dan terpinggirkan, namun beliau jengah dalam dirinya membara mulai dari mengembangkan kelompok, belajar dan terus belajar, beliau tidak mau ketinggalan dalam mengenal sebuah perangkat komputer, yang diawali dengan belajar ketik-mengetik dengan menggunakan mesin ketik di kantor desa, mulai dari mengenal rangkaian huruf QWERTY dalam keyboard Komputer, dan rasa ingin tahunya terus berkembang, mengingat pengalaman beliau dalam penyusunan sebuah proposal selalu menghabiskan biaya ongkos ketik dan print yang sangat mahal bagi ukuran beliau, tidak hanya berhenti disitu disaat membuat laporan pertanggungjawaban kepada pihak pemerintah beliau merasa biaya ketik dan print yang mahal juga apalagi disertai dengan foto kegiatan pelaksanaannya. Nah dari sanalah beliau semakin jengah dengan mengusahakan untuk membeli sebuah laptop dan printer sebagai langkah awal beliau mengenal teknologi.

Berikutnya Adalah sahabat kami juga admin Kelompok Tani Ternak Pucak Manik, yakni seorang pionir Desa Musi, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng-Bali yan bernama : bapak I Ketut Sumadi, Ketua Gapoktan Desa Musi, antara cerita diatas yang dialami oleh bapak gede kartika hampir sama dengan nasib bapak ketut sumadi, baik dari sisi latar belakang pendidikan dan ekonomi sama sama dari keluarga kurang mampu, namun yang membuat admin merasa salut pada beliau adalah semangat juang, jiwa sosial, dan etos kerja yang luar biasa.
Bapak Ketut sumadi dengan permasalahan yang sama dalam biaya administrasi proposal dan LPJ membuat mereka jengah, dari hasil usaha peternakan mereka di sektor hilir dalam menjual produk pupuk organik hasil produksinya, pak ketut dan anggotanya sepakat untuk membeli sebuah Laptop, Kamera digital dan Printer. 

Dari Cerita diatas adalah sebuah kisah nyata petani dengan kondisi geografis desa yang sama yakni dilahan kering, semua berawal dari kondisi dan latar belakang yang sama petani dengan pendidikan dan ekonomi rendah, bukan berawal dari seorang profesor dan guru besar, namun semangat belajar, menggali segenap potensi lokal dalam menggerakkan roda perekonomian di desanya.
Untuk saudara-saudaraku sesama petani-peternak, kami saja yang berada di wilayah kritis dengan segala keterbatasan mau semangat belajar mengenal perkembangan zaman dan melek teknologi, kami ingin petani bangkit agar tidak gaptek. Semangatlah dan teruslah berjuang dalam menggapai mimpi indahmu


Salam Hangat Kami
Admin KTT. Pucak Manik


Gung Raka Purnawan