News Ticker

Menu

Search This Blog

Powered by Blogger.

About Me

My photo
Komunitas kreatif yang bergerak di bidang riset, jurnalisme, desain, dan komunikasi marketing. Integritas dan profesionalisme kami bisa dilihat pada topik dan cara penyajiannya pada situs-situs atau blog yang kami kelola. Sesimple itulah kami.

Browsing "Older Posts"

Browsing Category "Renungan"

BALADA PARA PETANI

Monday, April 23, 2012 / No Comments
Kami tak pernah bertanya
Tidak juga berbicara tentang diri kami

Sejak manusia belum mengenal logam
Sejak kerbau dan sapi belum diairkan
Tahukah kalian
Kami para petani telah memulai menanam
Setelah jemu berburu dan mengumpulkan binatang

Tahukah kalian
Kamilah para petani pemula budaya
Membuat mata manusia terbuka dan hidup damai berlipat ganda
Generasi demi generasi kami pelihara
Sambil menanti ribuan tahun lagi
Tibanya zaman baru technology dan industry
Informasi dan komunikasi
Tanpa kami para petani
Dimana pula kalian berteduh
Mengasah fikiran memajukan zaman dan pengetahuan

Dizaman perangpun tentara kita bertumpu pada petani
Dizaman kemerdekaan saat tak ada sepeserpun modal masuk dari negeri antah berantah
Lalu siapa yang menjamin perut kalian
Yang lapar dan terkulai lemah


Maka tengoklah barang sejenak
Arahkan pandanganmu ke Pucak Manik
Puncak tumbuhnya segala benih
Ditanah bali arah utara sana

Kaulihatkah sekumpulan petani
Mengasah tulang menguatkan otot
Menyasak rambut rambut sapi keturunan asli
Melipat gandakan jumlah mereka
Buat kemakmuran anak negeri
Yang kini telah mendapatkan pimpinan baru semangat baru

Tanah buleleng negerinya para singa
Serta rajanya para singa narasingamurti
Putera CIWA yang mulau mendobrak kelesuan
Lalu membangun gelegar hingar bingar kemajuan pembangunannya
Melalui usaha usaha kami
Para petani
Beternak sapi
Sumber protein hewani yang mumpuni


Lalu apakah kau diam saja
Beku dan berbalik muka
Begitu saja …?

Tidak kawan tidak
Sambutlah pasukan kami gerakan para petani
Dengan gempita dan gelegar badai usaha mandiri
Menyemaikan kemakmuran
Mencampakkan ketertinggalan dan kemiskinan
Dari sebuah tempat jauh disana
Tinggi disana

PUCAK MANIK nama tempat kami bermula
PARA PETANI YANG PENUH NYALA DAN SEMANGAT !

oleh :
Soegianto Sastrodiwiryo.
Muara Wahau, Kaltim, 23 April 2012 Jam tiga lebih lima belas sore waktu Mahakam.

 

Pesan Nyepi Menjelang Kenaikan Harga BBM & TDL

Friday, March 16, 2012 / No Comments
Menjelang Kenaikan Harga BBM dan TDL nanti, Pada minggu Ke-3 (Tiga) bulan Maret ini, Kita di Bali ada sebuah Hari Raya Besar Umat Hindu di Bali, tepatnya pada Tanggal 23 Maret 2012, Hari Pertama Sasih Kedasa dalam kalender bali,  umat Hindu Di Bali Akan Merayaka Hari Raya Nyepi. Sebuah hari raya Pergantian Tahun Baru Ḉaka yang ke 1934, yang diselenggarakan setiap setahun sekali.
Pada artikel kami sebelumnya yang berjudul "Nyepi Bentuk Keselarasan Alam Mikro & Makro" disana telah dijelaskan mengenai Kegiatan Pelaksanaan hari Raya Nyepi serta makna dari hari raya nyepi tersebut. 

Namun pada kesempatan Kita kali ini Admin walau bukan seorang pengamat, walau bukan seorang spiritualis atau bahkan bukan seorang penguasa, melainkan hanya seorang petani biasa akan mencoba menuangkan sebuah kerangka pikiran berupa pesan hari raya nyepi menjelang kenaikan Harga BBM dan TDL. Ini adalah sebuah kerangka pikir penulis yang tentu masih banyak kekurangannya.
Bagi Penulis Hari raya nyepi ini adalah hari raya yang sangat suci dan sakral yang mana para tetua dibali menyebutnya "Tenget", hari nyepi ini merupakan bentuk kearifan budaya lokal untuk perbaikan dunia ini, melalui hari raya  nyepi inilah lahirnya inspirasi sebuah agenda dunia yang disebut "World Silent Day" yang telah kita ketahui bersama.


Hari Raya Nyepi di tahun baru Ḉaka yang ke 1934 ini, perlu sekali kita memberi sebuah makna yang mendalam disamping melaksanakan rangkaian upacara nyepi dan "Catur Berata Penyepian" itu sendiri.
Nyepi adalah Tahun baru, tidak selayaknya tahun baru pada umumnya yang dirayakan dengan pesta pora, tahun baru Ḉaka dibali dirayakan dengan suasana keheningan, mengingat nyepi itu berasal dari kata sepi, sunyi dan senyap.

Dari sisi Tujuan Hari Raya Nyepi adalah untuk memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, Ida SangHyang Widhi Wasa untuk menyucikan Bhuwana Alit atau alam dalam diri manusia atau microcosmos dan Bhuwana Agung atau alam semesta atau macrocosmos. Sehingga akan terjadi keselarasan baik Alam Mikro dan Makro.

Dari sisi prosesi upacara penyepian yang diawali dengan kegiatan Melasti yakni penyucian symbol-symbol tuhan (pretima) yang bermakna membuang segala kekotoran yang ada, kemudian dilakukan serentak upacara tawur dan pengerupukan  sehari menjelang puncak acara penyepian yaitu upacara pecaruan untuk menetralisir bhutakala dalam hal ini dapat dikatakan untuk menetraliris kekuatan negatif.

Pada Tahap inti pelaksanaan Hari Raya Penyepian dilakukan beberapa wujud pengendalian diri dan mawas diri dengan empat pedoman yang disebut Catur Bratha Penyepian yakni :
1. Amati Geni : Tidak berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api, dan secara batin dimaksudkan untuk mengekang dan mengendalikan diri dari hal-hal yang bersifat negatif seperti mematikan api amarah dan api asmara.
2. Amati Karya : Tidak melakukan pekerjaan Jasmani dan meningkatkan penyucian rohani
3. Amati Lelungan : Tidak bepergian dan tetap mawas diri
4. Amati Lelanguan : Tidak mendengarkan hiburan, melainkan peningkatan pemusatan pikiran kepada Hyang Widi.
Serta bagi yang mampu juga melaksanakan “tapa, brata, yoga dan semadhi.”



Dari prosesi dan beberapa penjelasan diatas mengenai Hari Raya Nyepi, kita dapat menarik sebuah pesan moril untuk kita semua menjelang sebuah rencana pemerintah Republik Indonesia menaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) dan TDL (Tarif Dasar Listrik) pada awal bulan April 2012 nanti.
Melalui Hari raya nyepi kita belajar menatap sebuah hari baru yang dimulai dengan ketenangan dan penuh sikap positif, dengan berusaha mengekang hawa nafsu dan amarah serta ketidak puasan.
Melalui hari raya nyepi kita belajar untuk lebih arif dan bijaksana dalam mengambil sebuah keputusan, belajar mencintai diri kita sendiri, belajar mencintai alam semesta ini dengan berusaha untuk tidak mencemari alam semesta ini dengan sikap yang konsumtif dan barbar.
Melalui hari raya nyepi ini kita belajar untuk memanfaatkan potensi dalam diri kita dan lingkungan sekitar kita sebaik-baiknya dengan pola hidup hemat.

Mungkin jika anda ada di bali disaat hari raya nyepi berlangsung, anda akan merasakan sebuah kenikmatan, tanpa suasana bising deru dan debu asap kendaraan yang mengepul dijalanan yang mengkonsumsi banyak BBM, tanpa ada suasana bising dentuman speaker  yang terasa menghentak ditelinga dan mengguncang dada yang sudah tentu disertai gemerlap lampu di dunia hiburan yang menghabiskan ber ratus-ratus Watt Listrik, udara bersih dan segar kita hirup, langit bali yang biru seperti dulu, suara burung berkicauan begitu indah, keesokan harinya dalam hati anda akan berkata Andaikata Nyepi ini berlangsung dalam setahun lebih dari sekali dunia ini pasti jauh lebih tenang, konsumsi listrik dan BBM bisa tertekan yang sudah tentu bisa menyelamatkan keuangan Negara Atau andai kata Kearifan Nyepi ini ada juga di belahan pulau lainnya dunia ini, mungkin dunia ini bisa terselamatkan dari isu pemanasan global.

Upacara "Nangluk Merana" Di Bali

Tuesday, January 3, 2012 / No Comments
Upacara dan upakara dalam bidang pertanian di bali sudah dikenal dari zaman dulu hingga di era kekinian masih tetap lestari, salah satu upacara dan upakara dibidang pertanian di bali diantaranya : "Tumpek Kandang atau tumpek uye" yang jatuh setiap enam bulan sekali yaitu pada setiap Sabtu Umanis wuku Uye, dengan tujuan untuk menghormati dewa siwa dalam manifestasinya sebagai sang rare angon yang merupakan penguasa semua binatang dan "Tumpek Wariga, Tumpek Uduh atau Tumpek Bubuh" yakni upacara yang jatuh setiap 6 bulan sekali pada Sabtu Umanis Wuku Wariga, Tujuan upacara ini yakni memberikan persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Sangkara, Dewa Penguasa Tumbuh-tumbuhan. Masih banyak lagi tradisi di bali yang erat kaitanya dengan dunia pertanian dan salah satunya yakni Upacara Nagluk Merana.
Upacara Nagluk Merana bermaksud untuk menghindari segala mara bahaya atau gangguan yang menyerang lahan pertanian atau perkebunan, apakah itu dirusak oleh burung, dirusak oleh monyet, diserang lebah, diserang hama tikus, hama belalang sangit, ujung janur mati, dan mereng. Inti upacara ini adalah salah satu upaya memohon kepada Tuhan agar keseimbangan alam tetap terjaga. Oleh sebab itu, upacara 'Nangluk Merana', yang menurut sastra kuno adalah dipercaya untuk penanggulangan secara 'niskala' atas hama yang datang menyerang tanaman milik para petani.
Tradisi unik yang telah diwarisi di bali ini perlu kita lestarikan dan tidak hanya berkutat pada tatanan upacara dan upakara saja, namun perlu kita maknai dan di implementasikan dalam konteks kehidupan nyata di era kekinian. Dalam kehidupan kita sekarang ini banyak kita temui berita bencana alam, wabah tikus, ulat bulu, kekeringan, kerusakan hutan dan lain sebagainya, ini semua sebagai pertanda bahwa tatanan ekosistem sekarang ini sudah tidak stabil lagi, padahal bebrapa program telah diluncurkan dalam menyelamatkan dunia ini, namun semua hanya baru pada tatanan wacana, sedikit tindakan nyata.


Kembali kepada materi Upacara nangluk merana di bali, tradisi ini telah lama dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat bali, namun di era kekinian wabah ini semaakin menjadi-jadi hingga hampir setiap hari kita dengar di media baik cetak maupun elektronik. Wabah tikus ini tidak hanya menyerang petani saja, namun seluruh sendi kehidupan masyarakat indonesia kini di hinggapi wabah tikus berdasi ini, mulai dari level paling bawah hingga ke level tertinggi. Tikus tikus ini tiada malu menggerogoti rakyat dengan beberapa dalih penyelamatan nasib rakyat, dengan janji manis di awal kepeminpinannya hingga membuat rakyat terlena dan akhirnya kini terserang juga.Selayaknya Pemberantasan hama, berbagai upaya telah dilakukan mulai dari penyemprotan "racun tikus" di tatanan yudikratif dengan lembaga terhormatnya, namun sayang bebagai permasalahan lain timbul, baik berupa matinya "bekteri penyelamat" yang bermanfaat bagi rakyat seperti tekanan politis terhadap lembaga bersangkutan, ini memang aneh, tapi nyata sekali.
Di bali dalam pemberantasan wabah penyakit melalui upcara nangluk merana, seorang raja, pemuka agama dan para petani itu sendiri terlibat langsung dalam prosesi ini, begitu juga di indonesia ini, dengan lantangnya pemimpin kita berkata sebagai panglima akan menghunus pedang di jajaran terdepan dalam memberantas hama "tikus berdasi" ini, namun sayang antara raja dan penyelenggara negara di era kekinian banyak memiliki perbedaan dari sisi mentalitas dan kecintaan yang ikhlas pada rakyatnya. 
Wabah "tikus berdasi" bukan hanya wabah biasa, namun wabah yang menyerang mental alias penyakit mental, dan cara penanggulangannya juga mestinya dengan pola Pemberantasan Hama Terpadu (PHT) yang telah lama di kenal oleh petani. Mulai dengan Sikap mental yang baik dari peminpin dan rakyat, Formulasi Pestisida hanyati/payung Hukum yang tegas dan mendidik, hingga Keterlibatan seluruh element Masyarakat dalam mengawasinya.
Ada baiknya kita bersama merenung "Mulat sarira", Menghayati sebuah makna kehidupan ini dengan kebaikan bukan kemunafikan, mari kita belajar dari susastra kuno warisan nenek moyang kita dalam menyelamatkan dunia ini dari wabah dan bencana.

Cerita Petani Tua dengan Anaknya

Thursday, July 14, 2011 / No Comments
Adalah Beliau Salah Satu Anggota Kelompok Ternak Pucak Manik bernama Bapak I Gusti Putu Gargita, petani tua dari Desa Lokapaksa, dengan usia mencapai  70 tahun hari-harinya seakan tidak pernah peduli akan hiruk pikuk dunia ini yang berebut kekuasaan, yang mengemplang pajak, yang mengkorup uang rakyat dan lain sebagainya. Kesehariannya sebagai  buruh tani dan petani dilahan kering/tegalan dengan akrabnya berteman dengan cangkul dan sabit di sepetak lahan kering miliknya dari warisan milik leluhur beliau. Kehidupannya sangat-sangat sederhana sekali, beliau kini tinggal bersama istrinya yang kini sakit-sakitan dari 5 tahun yang lalu, beliau memiliki 2 orang anak, anak pertamanya perempuan dan kini sudah berkeluarga, sedangkan anak ke-2 nya bekerja sebagai buruh angkut  di sebuah toko suplier bahan bangunan di KOTA Denpasar dengan gaji hanya cukup untuk menghidupi dirinya sendiri di kota denpasar.
Kini beliau sebagai kepala keluarga dengan menghidupi istrinya yang sakit-sakitan, ketika musim penghujan tiba beliau baru bisa bertani di lahan miliknya, ketika musim kemarau tiba maka beliau bekerja sebagai buruh tani mulai dari TUKANG TANAM PADI (dibali dengan istilah :"Tukang Pula Padi") hingga buruh Panen, terkadang jika tidak ada pekerjaan di sektor pertanian beliau akan bekerja sebagai buruh bangunan, Sore harinya setelah selesai  bekerja/Meburuh beliau langsung menyiapkan Sabitnya untuk menyabit Rumput  untuk 3 ekor induk ternak nya dan  memotong batang pisang sebagai pakan babi. 
Semangat bekerja beliau kita perlu tiru, namum kita sadari KEADAAN lah yang telah memaksa beliau untuk bekerja keras di usia senja seperti sekarang, demi sesuap nasi untuk istri dan dirinya sendiri. Cerita ini telah mengingatkan kembali pada sebuah artikel yang dulu pernah saya tulis di blog ini dengan judul : "KATANYA, BERTANI TIDAK MEMBUAT BANGGA" Kini saya buktikan kebenaran artikel tersebut diatas melalui sebuah Cerita Petani Tua dengan Anaknya ini yang langsung dengan mata kepala saya lihat dan dengar penuturannya....!
Pagi ini tepatnya di musim kemarau, hari Selasa, 5 Juli 2011 mejalang perayaan hari raya Galungan saya mencoba berkunjung ke rumahnya, hari ini  beliau tersirat kebahagiaan beliau dengan berkumpul bersama keluarganya, anaknya yang bekerja di KOTA pulang kampung, ketika para tetangga mempersiapkan hari raya dengan membeli daging atau bahkan ada yang memotong babi, namun beliau tidak bisa demikian....!, penuturan beliau "Galungan ken sing Galungan Patuh dogen kanggoang, ne penting tetujone ken ida bhatara" yang artinya : Hari Raya galungan terasa sama saja dengan hari-hari lainnya, yang penting tujuan kita kebada beliau IDA HYANG WIDHI WASA. Penuturan beliau anaknya tidak mau melakoni pekerjaan sebagai petani selayaknya beliau, anaknya memilih bekerja di Denpasar sebagai buruh.
Ketika saya mencoba bertanya kepada anaknya mengenai minatnya sebagai petani, dia menjawab "Yen Kadikan Jumah tetep ada gegaen ne menjanjikan walaupun dadi petani sing masalah, yang penting pasti maan penghasilan, adian jumah len maan kumpul ajak iaji" Artinya "Andaikata Tinggal di desa ada pekerjaan yang menjanjikan walaupun menjadi seorang petani tidak masalah, yang terpenting ada penghasilan, lebih baik tinggal di desa biar dapat kumpul dengan Orangtua". Dari penuturan anak beliau dengan Gaji Rp.900.000,- di denpasar ditambah biaya kost, biaya cicilan sepeda motor  dan biaya hidup tidak mampu membantu orang tua beliau di desa. Dari pembicaraan Tadi dengan Anak Beliau dapat disimpulkan bahwa "Menjadi Petani Penuh Ketidak Pastian dalam Hal Penghasilan" dibandingkan Kerja di KOTA sebagai Buruh Angkut Bahan Bangunan.  

Perjalananpun Berlanjut Ke Seorang Petani Tua lainnya, dengan Latar belakang dan pemain berbeda. Adalah Beliau Anggota Kelompok Ternak Pucak Manik dengan No. Anggota : 015/KTPM/NA-I/07, yang bersangkutan tidak mau disebutkan namanya, Anggap Saja Namanya Bapak I GUSTI NYOMAN dengan usia hampir mencapai 75 tahun, belia juga memiliki seorang putra satu-satunya sebagai anak bungsu dari 3 orang kakak perempuan, Sebut saja namanya Pak I GUSTI KETUT. 
Kini beliau I GUSTI NYOMAN Tinggal seorang diri di desa setelah kematian istrinya pada tanggal 24 JUNI 2011 kemarin karena komplikasi. 
Beliau dulu punya banyak warisan dari leluhurnya, semangat beliau menyekolahkan anak semata wayangnya sangat berapi-api, dengan tujuan agar kelak anaknya tidak menjadi seorang petani sepertinya kini, semenjak tamat SMA anak beliau bekerja di Kota Denpasar sebagai karyawan swasta sambil kuliah D3, hasil kerjanya hanya cukup untuk kebutuhan hidup di kota besar, biaya kost, dan biaya cicilan sepeda motor Sementara Biaya Kuliahnya disokong oleh orang tuanya dari berbagai sumber, salah satunya dengan mejual tanah warisan.
Pasca Kuliah kini anak beliau I GUSTI KETUT bekerja sebagai karyawan di sebuah VILLA di denpasar, dengan istri dan 2 orang anaknya kini merantau di denpasar. Pasca meninggalnya ibu tercinta beliau sebenarnya berkeinginan balik ke kampung entah apa alasannya...?, namun apa daya ketrampilan sebagai petani tidak ada, pekerjaan selain sebagai petani sangat sulit untuk diperoleh di desa, akhirnya untuk sementara terpaksa meninggalkan orangtua sendirian yang sudah usur di desa.
Dari dua latar petani yang berbeda tersebut diatas menurut saya sudah cukup mewakili artikel yang dulu pernah saya tulis di blog ini dengan judul : "KATANYA, BERTANI TIDAK MEMBUAT BANGGA" dengan kesimpulan : Generasi muda lebih memilih pekerjaan selain sebagai petani yang menurut mereka bertani penuh ketidak pastian, lebih cenderung memilih profesi yang lain disamping ketiadaannya kesempatan kerja di negeri ini juga karena profesi petani ini tidak membuat bangga baik bagi petani maupun anak-anak mereka yang belepotan dengan lumpur, bau kotoran dan kencing sapi dan lain sebagainya. 
Jujur saja penulis juga bagian generasi muda, yang dulu sekolah dan kuliah dari hasil  penjualan sapi, penjualan hasil kebun, hasil bertani oleh orang tua, yang kini sebagai pengurus di Kelompok Ternak Pucak Manik dan Gapoktan Triloka Amertha, merasa miris dengan pandangan generasi muda lainnya yang tidak mencintai profesi sebagai petani. Mudah-mudahan melalui Pucak Manik disamping sebagai pusat usaha pertanian/peternakan  juga bisa Sebagai pembentuk sikap mental petani, serta Kedepan Melalui KOPERASI TANI WERDHI SADHANA bisa memberi dan membuka lapangan pekerjaan bagi generasi muda di desa. Tentu dengan di barengi dengan Perhatian Pemerintah baik dari Aspek Permodalan, Pelatihan SDM Petani, Penerapan Teknologi Serta yang lebih penting KEBIJAKAN YANG LEBIH MENGUNTUNGKAN PETANI bukan PENGUSAHA/IMPORTIR BAHAN PANGAN.

PUPUK ORGANIC "Petani VS PABRIK" Siapa Juara...?

Wednesday, July 13, 2011 / No Comments
Petani telah menyadari akan menurunnya hasil pertanian mereka semakin hari semakin menurun, hal ini menurut para ahli disebabkan karena semakin rusaknya kondisi tanah pertanian akibat dari penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang berlebih, kita juga bersama menyadari akhir-akhir ini terjadi ketidak seimbangan lingkungan hidup di sekeliling kita, nah dari sekelumit permasalahan petani, maka pemerintah dari tingkat pusat sampai dengan daerah menggalakkan program pertanian organik.

Dalam rangka mewujudkan program tersebut, maka telah diambil berbagai jalan melalui program-program strategis baik pusat maupun daerah, diantaranya : Program Pertanian Terintegrasi yang di Bali di beri nama SIMANTRI, Program SMD, Program Penyelamatan Sapi Betina Produktif, Program UPPO, hingga program penycabutan subsidi pupuk kimia, dan beralih ke subsidi pupuk organik. Dari sederet program tersebut diatas yang menjadi salah satu tujuan pemerintah yakni  petani diharapkan mau dan mampu memproduksi pupuk organik dari limbah ternak dan limbah pertanian yang ada, dalam rangka mewujudkan kemandirian petani itu sendiri.Kebijakan pemerintah ini perlu kita berikan pernghargaan dan apresiasi positif dengan medukung pelaksanaan program ini hingga sukses, terutama sekali kepada GAPOKTAN dan Kelompok-kelompok Tani Ternak (POKTAN) yang sudah di berikan kepercayaan melaksanakan program pemerintah ini, salah satu pelaksana program GO BALI ORGANIK dan GO BALI GREEN PROVINCE adalah POKTAN/GAPOKTAN penerima BANSOS SIMANTRI baik dari tahun 2009 hingga tahun 2011 ini.
Akhir-akhir ini dengan santernya kami dengar mengenai pemberitaan Pencabutan subsidi pupuk UNORGANIC dan dialihkan ke subsidi Pupuk ORGANIC, dari hati yang paling dalam kami selaku petani yang sekaligus peternak yang kebetulan memproduksi Pupuk ORGANIC merasa senang sekali, Artinya secara Bisnis PUPUK KAMI LAKU...!, kemudian hari demi hari, bulan demi bulan kita lalui akhirnya Petani di subak mendapatkan bantuan Pupuk Organic dari pemerintah, tidak lain pupuk tersebut hasil produksi PABRIK.

Pupuk Organic produksi PABRIK ini dengan kemasan indah dipandang mata, Tidak Seperti Kemasan KAMI yang belum di SABLON dan ada logo kelompok kami serta kandungan unsur hara baik mikro maupun makro, dari sisi bentuknyapun butiran/GRANUL seperti pupuk UNORGANIC yang diminati petani, beda jauh dengan bentuk pupuk kami yang berbentuk serbuk/POWDER, dari Sisi Harga KATANYA....! Harga Pupuk ini dihargai sama pemerintah Rp.1500 per Kg. Pemerintah memberikan subsidi melalui PABRIK PUPUK sebesar Rp. 1000,- sehingga petani membelinya dengan harga wajarnya Rp.500/kg, Sedangkan PUPUK ORANIK PRODUKSI PETANI, Kami Jual dengan HARGA Rp. 1000,- per KG, Jika dibandingkan Bagi Petani Pemakai PUPUK akan Memilih PUPUK PABRIK BERSUBSIDI KARENA CUKUP MEMBAYAR Rp.500,-. Dengan jiwa dan semangat positif menanggapi bantuan ini, walaupun ada sedikit kekecewaan, kedepan kami yakin KEBIJAKAN INI AKAN BERPIHAK PADA KAMI.


Hari dan bulan terus berganti, kami berharap kedepan PEMERINTAH MAU memperhatikan KAMI mulai dari PENGUJIAN KANDUNGAN HARA,  Bantuan MESIN GRANUL, Hingga PELATIHAN PASCA PRODUKSI yang membahas BRAND, Bentuk KEMASAN Hingga Kebijakan Yang LEBIH BERPIHAK PADA KAMI yakni PEMERINTAH MAU MEMBELI PUPUK PETANI Selayaknya PUPUK PABRIK.
Yang terjadi Hingga Musim Pemupukan Kembali Tiba, harapan kami diatas belum JUA TIBA, hingga kembali lagi PUPUK PABRIK menang....!, inipun terus berulang setiap saat Hingga Kapan ini BERAKHIR kami rakyat kecil belum TAU JAWABNYA...? Jika hal ini terus berlanjut, maka PETANI-TERNAK yang mau mengusahakan pupuk ORGANIK SEBAGAI PELUANG akan menjadi MALANG sebab PUPUK DI PRODUKSI Dalam JUMLAH BESAR tidak AKAN LAKU dengan HARGA Rp.1000,-/Kg dibanding Rp. 500,-/Kg, KEMASAN YANG TIDAK BERSAING dibanding PABRIK, KANDUNGAN HARA Yang BELUM JELAS dibandingkan PABRIK. AKHIRNYA PETANI KALAH TELAK Dibandingkan PENGUSAHA.

Melalui Tulisan INI KAMI TIDAK BERMAKSUD MENOHOK/MENYODOK SIAPAPUN, agar jangan sampai kami petani kecil disidangkan atas TULISAN keluh kesah kami di media BLOG ini SEPERTI IBU PRITA MULYASARI. Jika ada yang Tersinggung Kami Mohon Maaf, tapi INILAH KENYATAANNYA...!, Jika Maaf Kami Tidak Diterima Mohon jangan Sidangkan KAMI, Lebih Baik Saling GOROK.

Mengingat Akhir akhir ini, sedang TRENDnya Istilah NEOLIB, maka Melalui Kesempatan ini kami kutip sebuah cerita Tentang KEBIJAKAN NEOLIB berikut :
punya pandangan salah tentang Amrik, penduduknya tinggal di kota-kota besar daan udah pasti orang kaya. ada dua golongan di Amrik yang tidak ikut menikmati manfaat "kemakmuran" tahun 1920-an yaitu PARA PETANI dan 12 juta penduduk kulit hitam. KENAPA PARA PETANI TIDAK KEBAGIAN DUREN LIBERALISME.............?
Dalam rangka memantapkan kebijakan Neo-Liberalisme, para pendukungnya secara gencar mengkampanyekan mitos – mitos yang berkaitan dengan Neo-Liberalisme dan pasar bebas sebagaimana dijelaskan oleh Mansour Fakih(2003), bahwa mitos-mitos itu antara lain adalah :
PERTAMA : Perdagangan bebas akan menjamin ketersediaan pangan murah dan kelaparan tidak akan terjadi.Kenyataan yang terjadi bahwa perdagangan bebas justru telah meningkatkan harga pangan.
KEDUA : Bahwa WTO dan TNC akan memproduksi pangan yang aman, kenyataanya dengan penggunaan pestisida secara berlebihan dan pangan hasil dari hasil rekayasa genetika justru membahayakan kesehatan manusia dan keseimbangan ekologi.
KETIGA : Kaum perempuan dan petani akan diuntungkan dengan berlakunya pasar bebas. Kenyataannya perempuan dan petani semakin tersingkir baik sebagai produsen maupun sebagai konsumen.
KEEMPAT : Bahwa pemberlakukan paten dan hak kekayaan intelektual akan melindungi inovasi dan pengetahuan. Kenyataanya paten justru memperlambat alih teknologi dan membuat teknologi menjadi mahal
KELIMA : Perdagangan bebas di bidang pangan akan menguntungkan konsumen karena harga murah dan banyak pilihan. Kenyataannya justru hal itu mengancam pangan di negara – negara dunia ketiga.

Dalam sidang WTO di Cancun (Meksiko), 9 September 2003, seorang petani dari Korea Selatan, Lee Kyung Hae, melakukan aksi bunuh diri di depan gedung tempat berlangsungnya sidang. Saat itu dia menggunakan pakaian bertuliskan “WTO Membunuh Para Petani”. Lee adalah seorang petani padi yang memiliki lahan luas di Korsel, namun kemudian bangkrut karena negaranya dibanjiri oleh beras impor yang harganya jauh lebih murah. Lee memperjuangkan nasib petani di negaranya dengan berbagai cara, namun gagal. Sejak Korsel mematuhi aturan liberalisasi perdagangan, jumlah petani di negara itu telah berkurang setengahnya (dari sekitar 6 juta menjadi sekitar 3 juta petani). Padahal, Korsel adalah negara agraris, persis Indonesia. Perjuangan Lee berakhir dengan aksi bunuh diri di Cancun.[1]

Di India, pada tanggal 3 September 2009 lebih dari 50 ribu petani dari berbagai penjuru India berkumpul di New Delhi dengan membawa poster bertuliskan “WTO keluar dari pertanian”. Mereka memrotes Pemerintah India yang tidak melindungi petani lokal. Karena terikat perjanjian WTO, India hanya bisa melindungi 5 persen dari produk pertaniannya dari pemotongan tarif. Akibatnya, produk lokal India kalah bersaing dari produk pangan bersubsidi dari AS dan Uni Eropa.

Selain itu, WTO juga membuka peluang bagi perusahaan transnasional untuk membuka lahan pertanian di India. Industrialisasi pertanian, penggunaan bahan kimia, dan penghancuran lingkungan yang dilakukan oleh perusahaan agribisnis yang dimiliki AS sangat merugikan petani India. Jutaan petani India kehilangan mata pencaharian dan menjadi semakin miskin.[2] Sejak tahun 1995 hingga kini, tercatat lebih dari 36 ribu petani di India melakukan bunuh diri karena tak sanggup lagi menahan kemiskinan.

Sementara itu, di Indonesia, dampak WTO sudah sangat terasa. Indonesia sejak tahun 1994 telah menjadi anggota WTO dan diratifikasi dengan UU no. 7 tahun 1994. Namun, meskipun WTO mengklaim bahwa tujuan organisasi ini adalah “to improve the welfare of the peoples of the member countries” [3] kenyataannya, 15 tahun setelah begabung dengan WTO, Indonesia semakin lama justru semakin bergantung pada produk pangan impor. Negeri yang subur serta memiliki curah hujan tinggi dan banyak sumber daya manusia ini, setiap tahunnya harus menganggarkan dana sebesar 50 trilyun rupiah untuk mengimpor kedelai, gandum, daging sapi, susu, gula, bahkan garam. Nilai impor garam Indonesia per tahunnya mencapai 900 milyar rupiah.[4] Metro News (30/6/09) memberitakan bahwa sebagian besar pelaku bunuh diri di Bali adalah petani.[5]

Saat ini, sekelompok kecil orang ternyata lebih kaya dari seluruh orang di benua Afrika. Hanya dengan memiliki 200 perusahaan, ¼ perekonomian dunia sudah dapat dikuasai para pemodal. General Motors memiliki kekayaan yang lebih besar dari Denmark, Ford lebih kaya daripada Afrika Selatan. Perusahaan-perusahaan kaya itu dipuji karena menanamkan investasi di negara-negara berkembang. Padahal yang terjadi, semua produk bermerek dibuat di negara-negara miskin dengan upah buruh yang sangat rendah, nyaris seperti budak. Seperti dikatakan John Pilger, “Yang miskin semakin miskin sementara yang kaya semakin kaya luar biasa.”[6]

Setahun Pra dan Pasca SIMANTRI 2010

Monday, July 11, 2011 / No Comments
SIMANTRI (Sistem Manajement Pertanian Terintegrasi) Merupakan Salah satu program pemerintah provinsi bali di bidang pertanian dalam arti luas dalam rangka mempercepat adopsi teknologi pertanian yang merupakan pengembangan model percontohan dalam rangka alih teknologi kepada masyarakat pedesaan, Khusunya Gapoktan Tri Loka Amertha, Desa Lokapaksa,  Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, SIMANTRI 022 yang di mulai dari awal tahun 2010 ini kini masih berjalan dengan baik, walaupun dengan segenap hambatan, tantangan dan rintangan yang ada akan tetap berjalan sejalan dengan tujuan pemerintah, dengan dukungan kelompok ternak pucak manik sebagai kelompok inti sektor peternakan dalam gapoktan.
Melalui Kesempatan ini kami sampaikan berbagai kemajuan yang mulai nampak secara nyata  dalam perjalanan SIMANTRI-022 sebelum adanya SIMANTRI (Pra SIMANTRI) Hingga kini hampir setahun berjalan SIMANTRI.

KONDISI PRA-SIMANTRI
Sebelum adanya program SIMANTRI masuk ke desa lokapaksa kondisi real yang terjadi secara kelembagaan petani di dalam kelompok tani, kelompok ternak, dan subak yang ada di desa memang sudah ada namun hanya beberapa kelompok yang aktif diantaranya : Subak-subak yang ada di lokapaksa, dan satu-satunya kelompok ternak yakni : Kelompok Ternak Pucak Manik, sisanya kelompok lain sebagian besar tidak aktif, Bahkan GAPOKTAN itu sendiri belum mampu sebagai lembaga aktif yang mampu mewadahi kelompok tani di desa lokapaksa selayak fungsinya. Ditinjau dari Sikap Mental Anggota masyarakat cenderung Apatis, terhadap hal-hal yang baru sehingga tidak jarang setiap bantuan yang masuk ke lokapaksa bermasalah, lihat saja contohnya : Program CBD, Program SPP melalui PNPM mandiri, kasus penjualan aspal bantuan oleh oknum ......, serta dengan melihat sederet masalah yang ada dari kasus kekerasan hingga pelenyapan Bantuan membuat hati kami jengah selaku masyarakat lokapaksa, ini akan kami buktikan melalui KELOMPOK TERNAK PUCAK MANIK sebagai pelaksana SIMANTRI 022 SEKTOR PETERNAKAN untuk jengah mengamankan Nama Baik Desa LOKAPAKSA yang kami cinta.

Dari Sisi Pertanian di Lokapaksa tergolong memiliki luas wilayah yang luas diantara desa di kecamatan seririt. Petani PRA-SIMANTRI, cenderung menggunakan pupuk kimia/UNORGANIC baik di lahan kering/tegalan, mapun di sawah. biasanya limbah pertanian tidak dimanfaatkan secara maksimal, sehingga tidak jarang di saat panen raya tiba banyak terdapat limbah jerami yang dibakar begitu saja, kepulan asap di tengah sawah menyebar ke angkasa.

Di sisi Peternakan sebagian besar dikelola secara tradisional/tanpa pengetahuan, Limbah ternak berceceran terkadang mengotori tubuh sapi itu sendiri sampai begitu tebal, Sapi-sapi peternak sebagian besar tidak dikandangkan, ditambatkan di tegalan/dibawah pohon, yang ketika musim hujan dari ujung kaki hingga lutut terbenam diantara kotoran-kotoran mereka, bau menyengat, dengan buyung berterbangan kondisi ini sangat menjijikkan.
Sapi-sapi para Peternak  merupakan sapi GADUHAN di bali dengan istilah KADAS-MENGADAS, dengan berbagai pola pembagian hasil yang TIDAK ADIL bagi peternak, terkadang yang membuat hati miris adalah ditengah kesusahan, para peternak telah mencairkan/menguangkan/Mengontrakkan Kandungan Sapi mereka kepada orang yang lebih mampu, dengan harga yang tidak sepadan, misalnya jika usia kandungan mencapai 6-8 bulan dikontrakkan dengan kisaran harga Rp. 500.000,00 Sampai dengan Rp. 700.000,00. Padahal tinggal menunggu beberapa bulan saja petani dikalahkan berlomba dengan kebutuhan hidup  standar mereka, LENGKAP SUDAH CERITA SENGSARA PETANI..............!
Pola pemberian pakan sapi sebagian besar pakan seadanya, saat-saat musim pacekelik/musim kemarau merupakan musim sulit pakan, ditambah dengan kecenderungan Kebutuhan biaya sekolah di tahun ajaran baru, ditambah lagi dengan Menurunnya HARGA SAPI...! INILAH KENYATAANNYA.......!
PRA-SIMANTRI Peternak memang mampu mejual PUPUK Kandang, namun Pupuk kandang mereka belum di fermentasi, harganya kisaran Rp.2.000,00 per Kampil dengan taksiran berat 20 KG, petani tidak mengenal istilah BIO-GAS, BIO-URINE, BIO-KULTUR apalagi PESTISIDA NABATI....! sangat jauh bayangan mereka terdap teknologi.


SETAHUN PASCA-SIMANTRI 

Setelah Program SIMANTRI ini berjalan selanjutnya kami sebut dengan PASCA-SIMANTRI, yang mana konsep integrasi yang kami rencanakan dari awal yakni Integrasi Tani Ternak baik di lahan Kering dengan melibatkan Subak Tegalan dengan potensi Tanaman Perkebunan, Tanaman kehutanan dan Tanaman Pertanian Palawija, sedangkan di Lahan Sawah dengan melibatkan Subak yang ada dengan potensi : Padi dan Palawija, sedangkan di sektor peternakan dengan Menunjuk KELOMPOK TERNAK PUCAK MANIK sebagai pelaksananya. 
Perjalanan SIMANTRI-022 Desa lokapaksa kini sudah berjalan hampir setahun, banyak hal positif yang perlu kita apresiasi, terus terang kami bukan butuh REWARD berupa uang atau tambahan Sapi dari pihak manapun, kami hanya ingin nama baik desa lokapaksa di mata orang-orang, bahwa kami ORANG KERAS dalam hal-hal yang positif, bahwa kami desa USAHA...! oke kita bahas satu persatu perkembangan SIMANTRI-022 DESA LOKAPAKSA.
Secara Kelembagaan Petani Baik di KELOMPOK TANI maupun di GAPOKTAN kini sudah mulai merasakan manfaat penting dari kebersamaan membangun usaha kelompok, Kelompok kelompok mulai tumbuh lagi dan mau menata diri untuk menatap masa depan, Adapun IMBAS dari pembelajaran SIMANTRI-022 desa lokapaksa adalah dengan Bangkitnya kembali Kelompok Tani Ternak Murdha Sadhana, Berdirinya Kelompok Wanita Tani (KWT) MANIK AMERTHA, yang merupakan gabungan dari istri anggota Kelompok Ternak Pucak Manik dan Kelompok Tani ternak Murdha Sadhana, yang MEMBANGGAKAN adalah pada tanggal 15-Januari 2011 Anggota Kelompok Ternak Pucak Manik Sepakat mendirikan KOPERASI TANI (KOPTAN) WERDHI SADHANA, yang kini anggotanya sudah semakin bertambah dari anggota KTT. Murdha Sadhana, Anggota KWT. Manik Amertha, dan baru bebrapa dari anggota subak di lokapaksa. kini sedang dalam tahap pengajuan Badan Hukum. Kelompok Ternak PUCAK MANIK telah mampu MENGIMBAS kan tidak hanya kepada kelompok di desa lokapaksa, tetapi juga KELOMPOK di LUAR DESA salah satunya adalah Kelompok Tani Ternak MUNDUK SARI DESA ULARAN, yang mana kini menjadi pelaksana inti sektor peternakan SIMANTRI-064 GAPOKTAN SABHA KARYA WINANGUN Desa Ularan.
Masih Banyak Lagi pertumbuhan kelompok akibat imbas SIMANTRI-022 Desa Lokapaksa, namun kini tinggal Bagaimana GAPOKTAN bisa Mengakomodasi POKTAN-POKTAN yang ada sehingga mampu menjadi Lembaga Keuangan Mikro (LKM) didesa selain KOPERASI TANI (KOPTAN) WERDHI SADHANA hasil bentukan Kelompok Ternak Pucak Manik.

Di Sektor Pertanian yang dikelola oleh Subak Sawah dan Tegalan kini petani setiap panen raya sudah tidak lagi membakar jerani mereka, jerami sebagian besar telah di manfaatka oleh petarnak baik yang tergabung dalam POKTAN maupun yang Tidak. semua limbah ditabung dan dikeringkan untuk persediaan pakan ternak mereka, walaupun belum sebagian petani mau mengolah dalam bentuk fermentasi pakan. Penggunaan pupuk organik telah digunakan oleh petani berkat sosialisasi PPL melalui SL di setiap subak, dengan bantuan pupuk organik pabrik dari pemerintah, kedepan harapan kami subak mau 100% menggunakan pupuk produk SIMANTRI tentu dengan bantuan dari pihak pemerintah dalam kebijakan mereka membangun pertanian organik. 
 Penggunaan Pupuk Produk SIMANTRI yang berupa KOMPOS kini lebih banyak dimanfaatkan oleh Petani HOLTIKULTUR untuk tanaman Keras Seperti Mangga, Rambutan, Durian dan Cengkeh. sedangkan dalam bentuk BIO-URINE belum begitu populer dan baru digunakan oleh Anggota Kelompok Ternak Pucak Manik dan beberapa dari subak Lebah Semawa untuk diaplikasikan ke PADI, dengan hasil Buliran padi yang besar dan lebih Berat tutur pengguna.
Di sektor peternakan itu sendiri peternak telah menyadari pentingnya kesehatan ternak mereka jika dibandingkan dengan sapi tanpa kandang jelas pertumbuhan dan kesehatanya lebih terganggu. Anggota kelompok inti sektor peternakan kini sudah mengenal Manajement Peternakan sapi, Pengolahan Limbah, Pengolahan pakan dan Jamu Sapi. Setiap 3 bulan sapi di suntik dengan Vitamin Bcomplex, DiVAKSIN tergantung persediaan VAKSIN dinas, serta pemberian pakan Tambahan berupa MINERAL dan Probiotik.

Dalam rangka perbaikan mutu genetik sapi, pemerintah telah melatih anggota kami mejadi PETUGAS INSEMINATOR (IB), dengan berbagai tantangan dalam menyadarkan petani untuk mau IB dilakukan, Lihat artikel kami DISINI, Setelah melihat contoh hasil IB mereka baru mau melaksanakan IB. 
Kegiatan Pengolahan Pupuk Kandang Baik padat Maupun Cair tetep berlangsung, seiring dengan pesanan dari petani cengkeh dan durian di desa UNGGAHAN, "kemarin sebelum galungan dapet ngirim 1 ton, kini pesanan 2 ton untuk diambil setelah hari raya kuningan" begitu penuturan seksi produksi KT. Pucak Manik, kini sepanjang setahun telah berhasil menjual 6 Ton keluar anggota kelompok, sisanya kedalam anggota kelompok dengan membayar 30% dari harga dasar pupuk. pupuk kompos produksi SIMANTRI 022 dijual dengan harga Rp. 500,00/KG untuk pembelian diatas 1/2 Ton, sedangkan dalam jumlah sedikit dijual dengan harga Rp. 700,00/KG. Pupuk Cair BIO-URINE dijual dengan Harga Rp.500,00/Liter curah/Tanpa Kemasan.
Pemanfaatan Limbah ternak untuk biogas tetap berlangsung, namun mengalami kendala air, mengingat air desa putus pasca diterjang banjir bandang awal tahun 2011 ini, namun kami pakai air URINE sapi yang belum di fermentasi untuk menghindari Pemadatan di DIGESTER biogas akibat kekeringan.
Pasca simantri banyak mendapatkan ilmu pengelolaan peternakan, mengingat anggota kami/ketua kelompok ternak Pucak manik mendapat kesempatan Pelatihan EM4 di IPPSA, hasil pelatihan tersebut akan terus di sosialisasikan kepada anggota Subak, anggota gapoktan serta demi kemajuan PUCAK MANIK, KOPTAN WERDHI SADHANA, dan akhirnya Gapoktan.

KENDALA/HAMBATAN
Kendala yang dihadapi kini : 
- Kelompok Membutuhkan Jalan Produksi menuju ke lokasi SIMANTRI KTT. Pucak Manik
- Kelompok Membutuhkan Air untuk dilokasi peternakan, mengingat air desa yang dulu kelompok pergunakan kini putus akibat banjir bandang tukad sabha awal tahun 2011
- Kelompok membutuhkan UJI LAB terhadap Kandungan Pupuk KOMPOS dan BIO-URINE
- Kelompok membutukhan mesin pencacah pakan ternak, mesih Hummermill, dan mesin pelet pakan.