News Ticker

Menu

Search This Blog

Powered by Blogger.

About Me

My photo
Komunitas kreatif yang bergerak di bidang riset, jurnalisme, desain, dan komunikasi marketing. Integritas dan profesionalisme kami bisa dilihat pada topik dan cara penyajiannya pada situs-situs atau blog yang kami kelola. Sesimple itulah kami.

Browsing "Older Posts"

Awalnya Ragu, Akhirnya Ketagihan di Suntik

Monday, June 27, 2011 / No Comments
Dalam rangka pemurnian genetik sapi bali dengan Inseminasi Buatan (IB) Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Peternakan  Provinsi Bali, dan Dinas Pertanian dan Peternakan (DISTANAK) Kabupaten Buleleng telah melatih para peternak  untuk melakukan IB alias KAWIN SUNTIK, salah satu dari kader anggota Kelompok Ternak Pucak Manik yang kebetulan mendapat kepercayaan dalam pelatihan ini adalah beliau I GUSTI AGUNG NGURAH ANDRIANA. 

Dalam rangka mewujudkan  program pemerintah yakni : Pemurnian Genetik Sapi Bali, Peningkatan Populasi Ternak Sapi Bali dan mensukseskan terwujudnya Program Swasembada Daging Sapi dan kerbau Tahun 2014, Kami Kelompok Merasa Bangga mendapat kesempatan pelatihan ini, Untuk itu kami haturkan terimakasih kepada Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Buleleng, Dinas Peternakan Provinsi Bali, serta semua pihak yang berkaitan dengan program ini. 

Dalam perjalanan Pasca Pelatihan anggota kami, terdapat ganjalan pelaksanaan IB/kawin suntik ini, terutama dari sisi masyarakat diluar anggota kelompok ternak pucak manik, yang belum mengenal apa itu IB/Kawin Suntik...?, Apa Manfaat dan keuntungan bila ternak mereka di IB/Kawin Suntik..?.  Masyarakat/Peternak diluar anggota kelompok belum terbentuk sikap dan mental serta pengetahuan mereka akan manfaat/keuntungan dari kawin suntik. Keraguan masyarakat sebagian besar tidak beralasan seperti : 
1. Katanya..... Anak Sapi hasil Kawin Suntik/IB sebagian besar lahir betina...!
2. Katanya..... Anak Sapi hasil Kawin Suntik/IB sebagian besar POLOS dan Bodoh orang bali menyebutnya "OLOG-OLOGAN/LENGEH"
3. Katanya..... Anak Sapi hasil Kawin Suntik/IB Tidak Kuat dipake Bekerja disawah / Membajak.

Itulah Bentuk keraguan mereka yang tidak beralasan sama sekali, kini menjadi tanggung jawab kelompok dalam rangka memberi penjelasan, memberi pengetahuan dan memberi contoh kepada masyarakat akan manfaat dan keuntungan dari kawin suntik/IB, Keraguan-keraguan itu terus di hembuskan terutama oleh Pemilik Pejantan yang selama ini mengawini sapi didesa, kami pun tetap memberi penjelasan, memberi pengetahuan dan memberi contoh kepada masyarakat akan manfaat dan keuntungan dari kawin suntik/IB.

Dapat Kami sampaikan bahwa IB/Kawin Suntik merupakan teknik memasukkan mani atau semen ke dalam alat reproduksi ternak betina sehat untuk dapat membuahi sel telur dengan menggunakan alat inseminasi buatan dengan tujuan agar ternak bunting.
KEUNTUNGAN dari kawin suntik/IB ini diantaranya : 
  1. Dapat menghasilkan keturunan anak yang baik dan berkualitas karena menggunakan sperma dari pejantan yang unggul.
  2. Peternak tidak perlu memelihara pejantan sehingga biaya pakan maupun waktu untuk memelihara pejantan dapat digunakan untuk keperluan lain.
  3. Dapat menghindari cacat pada kelahiran anak.
  4. Mencegah terjadinya penularan penyakit yang disebarkan melalui perkawinan alami.
  5. Dapat memperpendek jarak kelahiran (calving interval)
  6. Menghindarkan ternak sapi betina mengalami kecelakaan dalam melakukan perkawinan alami bila pejantan yang digunakan terlalu besar.
Pelaksana Inseminasi Buatan merupakan petugas yang telah dilatih untuk melakukan IB yang dilengkapi dengan SIMI (Surat Ijin Inseminasi Buatan). Petugas IB bertugas pada Satuan Pelaksana Inseminasi Buatan (SP-IB) di masing-masing Kecamatan.
Perlakuan atau Tindakan setelah Sapi di IB, yaitu :

-  Memberikan pakan yang berkualitas dan cukup jumlah   
Hindarkan ternak dari stres   
Berikan ternak air yang cukup   
Jangan pekerjakan ternak dengan beban berat   
Perhatikan ternak dengan penuh kasih sayang
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya kegagalan dalam pelaksanaan IB pada ternak sapi yaitu :
 
  1. Kondisi kesehatan sapi betina yang di IB. Betina yang kondisinya sehat (sebelum dan setelah di IB) akan mampu memelihara kebuntingannya sampai melahirkan dengan baik
  2. Ketepatan waktu pelaksanaan IB.
  3. Mutu semen beku yang digunakan. Semen beku yang digunakan hendaknya mendapatkan penanganan yang benar mulai saat produksi, penyimpanan dan distribusi sampai di tingkat lapangan 
  4. Keterampilan petugas IB sangat mempengaruhi keberhasilan IB. Makin terampil petugas IB, makin kecil resiko kegagalannya
Hasil IB PUCAK MANIK
Kegigihan Anggota Kelompok dalam mensosialisasikan Kawin suntik/IB ini akhirnya dengan lahirnya anak sapi di salah satu anggota kelompok Kami yang merupakan Hasil Kawin Suntik  dari Persilangan antara F0 sapi betina Anggota Kelompok dengan Pejantan dari Straw  KERTALABA yang mana kami telah menghasilkan F1 KERTALABA dari hasil IB, Kami undang petani/peternak yang selama ini apatis terhadap IB untuk menyaksikan sendiri hasilnya secara langsung, dengan tujuan menepiskan keraguan dari peternak untuk pelaksanaan IB.
Dengan adanya contoh nyata tersebut akhirnya terbuka pikiran peternak lainnya yang berada diluar Anggota kelompok untuk mengawinkan sapi-sapi mereka bila kelak sapi mereka Birahi, kini berangsur-angsur peternak sudah mulai meng-IB sapi mereka termasuk yang dulunya Apatis akan IB sudah meng IB sapi mereka. Singkatnya dapat kami katakan "AWALNYA RAGU, AKHIRNYA KETAGIHAN DI SUNTIK"

Harapan kami kedepan dimulai dari KELOMPOK TERNAK PUCAK MANIK Mampu memberi imbas POSITIF bagi masyarakat Desa Lokapaksa untuk semakin terbuka pikirannya, mau menerima Hal-hal baru yang sifatnya POSITIF untuk kemajuan Kita bersama, Kemajuan Desa Kita, Serta dari PUCAK MANIK belajar untuk mengubah citra desa lokapaksa menjadi Desa USAHA, Desa Agribisnis, Desa yang Damai serta penduduknya sejahtera. 

Mengenal Aneka Sapi di Dunia

Friday, April 1, 2011 / No Comments
Sapi yang ada di dunia pada saat inidapat dibedakan menjadi dua kelompok besar yaitu kelompok sapi-sapi tropis dan kelompok sapi-sapi sub topis. Kelompok sapi tropis contohnya sapi Zebu, Bos sondaicus, sapi Bali dan sapi Madura. Sedangkan yang termasuk kelompok sapi sub tropis adalah sapi Aberdeen angus, sapi Hereford, sapi Shorthorn, sapi Charolais, sapi Simmental, sapi Frisien Holland, dan masih banyak lagi jenisnya. Sedangkan berdasarkan tujuan dari pemeliharaan maka bangsa sapi dapat dibedakan beberapa tipe yaitu :
1.1.1. Sapi Tipe Potong

1.1.2. Sapi Tipe Pekerja
1.1.3. Sapi Tipe Perah
Untuk Itu Kita Bahas Satu-Persatu
1.1.1. Sapi Tipe Potong
Sapi tipe potong adalah sapi-sapi yang mempunyai kemampuan untuk memproduksi daging dengan cepat, pembentukan karkas baik dengan komposisi perbandingan protein dan lemak seimbang hingga umur tertentu. Sapi potong pada umumnya mempunyai ciri-ciri :
• Bentuk tubuh yang lurus dan padat
• Dalam dan lebar,
• Badannya berbentuk segi empat dengan semua bagian badan penuh berisi daging.
Sapi-sapi yang termasuk dalam tipe sapi potong diantaranya : Sapi Brahman, Sapi Ongole, Sapi Sumba Ongole (SO), Sapi Hereford, Sapi Shorthorn, Sapi Brangus, Sapi Aberden Angus, Sapi Santa Gartudis, Sapi Droughtmaster, Sapi Australian Commercial Cross, Sapi Sahiwal Cross, Sapi Limosin, Sapi Simmental, Sapi Peranakan Ongole.
1.1.1.1. Sapi Brahman

Brahman merupakan sapi yang berasal dari India, termasuk dalam Bos indicus, yang kemudian diekspor ke seluruh dunia. Jenis yang utama adalah Kankrej (Guzerat), Nelore, Gir,dan Ongole. Sapi Brahman digunakan sebagai penghasil daging. Ciri-ciri sapi Brahman mempunyai punuk besar, tanduk, telinga besar dan gelambir yang memanjang berlipat-lipat dari kepala ke dada. Sapi Brahman selama berabad-abad menerima kondisi kekurangan pakan, serangan serangga, parasit, penyakit dan iklim yang ekstrim.
Di India menjadikan sapi Brahman mampu beradaptasi dengan berbagai lingkungan. Daya tahan terhadap panas juga lebih baik dari sapi eropa karena memiliki lebih banyak kelenjar keringat, kulit berminyak di seluruh tubuh yang membantu resistensi terhadap parasit. Kharakteristik Sapi Brahman berukuran sedang dengan berat jantan dewasa antara 800 sd 1100 kg, sedang betina 500-700 kg. berat pedet yang baru lahir antara 30-35 kg, dan dapat tumbuh cepat dengan berat sapih kompettif dengan jenis sapi lainnya. Persentase karkas 48,6 s.d 54,2%, dan pertambahan berat harian 0,83-1,5 kg. Sapi Brahman mempunyai sifat pemalu dan cerdas serta dapat beradaptasi dengan lingkungannya yang bervariasi. Sapi ini suka menerima perlakuan halus dan dapat menjadi liar jika menerima perlakuan kasar. Sapi Brahman warnanya bervariasi, dari abu-abu muda, merah sampai hitam. Kebanyakan berwarna abu muda dan abu tua. Sapi jantan warnanya lebih tua dari betina dan memeliki warna gelap didaerah leher, bahu dan paha bawah.
Sapi Brahman dapat beradaptasi dengan baik terhadap panas, mereka dapat bertahan dari suhu 8-105 F, tanpa ganguan selera makan dan produksi susu. Sapi Brahman banyak dikawin silangkan dengan sapi eropa dan dikenal dengan Brahman Cross (BX)

1.1.1.2. Sapi Ongole

Sapi Ongole berasal dari India, tepatnya di kabupaten Guntur, propinsi Andra Pradesh. Sapi ini menyebar keseluruh dunia termasuk Indonesia.
Karakteristik Sapi ongole merupakan jenis ternak berukuran sedang, dengan gelambir yang lebar yang longgar dan menggantung. Badannya panjang sedangkan lehernya pendek. Kepala bagian depan lebar diantara kedua mata.
Bentuk mata elip dengan bola mata dan sekitar mata berwarna hitam. Telingan agak kuat, ukuran 20-25 cm, dan agak menjatuh. Tanduknya pendek dan tumpul, tumbuh kedepan dan kebelakang. Pada pangkal tanduk tebal dan tidak ada retakan. Warna yang populer adalah putih. Sapi jantan pada kepalanya berwarna abu tua, pada leher dan kaki kadang-kadang berwarna hitam. Warna ekor putih, kelopak mata putih dan otot berwarna segar, kuku berwarna cerah dan badan berwarna abu tua.
Sapi ini lambat dewasa, pada umur 4 tahun mencapai dewasa penuh. Bobot sapi 600 kg pada sapi jantan dan 300-400 kg untuk sapi betina. Berat lahir 20-25 kg. persentase karkas 45-58% dengan perbandingan daging tulang 3,23 : 1.

1.1.1.3. Sumba Ongole (SO)
Sapi ongole (Bos indicus) memerankan peran yang penting dalam sejarah sapi di Indonesia. Sapi  jantan Ongole dibawa dari daerah Madras, India ke pulau Jawa, Madura dan Sumba. Di Sumba dikenal dengan sapi Sumba Ongole.
Sapi Sumba Ongole (SO) dibawa ke Jawa dan dikawinkan dengan sapi asal jawa dan kemudian dikenal dengan peranakan ongole (PO). Sapi ongole dan PO baik untuk mengolah lahan karena badan besar, kuat, jinak dan bertemperamen tenang, tahan terhadap panas, dan mampu beradaptasi dengan kondisi yang minim.
Sapi-sapi ongole asal India dimasukkan kali pertama oleh Pemerintah Hindia Belanda ke Pulau Sumba, pada awal abad ke 20, sekitar tahun 1906-1907. Dari empat jenis sapi, yang dimasukkan ke Sumba saat itu, yaitu sapi Bali, sapi Madura, sapi Jawa, dan sapi Ongole, ternyata hanya sapi Ongole yang mampu beradaptasi dengan baik dan berkembang dengan cepat, di pulau yang panjang musim kemaraunya ini. Sekitar tujuh atau delapan tahun kemudian, pada tahun 1914, Pemerintah Hindia Belanda menetapkan Pulau Sumba sebagai pusat pembibitan sapi Ongole murni. Upaya ini disertai  dengan memasukkan 42 ekor sapi ongole pejantan, berikut 496 ekor sapi ongole betina serta 70 ekor anakan ongole.
Dalam laporan tahunan Dinas Peternakan Kabupaten Sumba Timur (1989) tercatat, pada tahun 1915, Pulau Sumba sudah mengekspor enam ekor bibit sapi ongole pejantan. Empat tahun kemudian, pada 1919, ekspor sapi ongole dari Pulau Sumba tercatat sebanyak 254 ekor, dan pada tahun 1929, meningkat mencapai 828 ekor. Sapi-sapi asal Sumba ini pun memiliki merek dagang, sapi Sumba Ongole (SO).
Perkembangan selanjutnya, Sumba kembali ditetapkan sebagai pusat pembibitan sapi ongole murni di masa pemerintahan Presiden Soeharto, melalui Undang-Undang Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan Nomor 6 Tahun 1967. Sapi ongole memang menjadi ciri khas Pulau Sumba, terutama Sumba Timur. Selain sapi, kekhasan lain Sumba Timur adalah padang rerumputan (sabana). Bentangan sabana kering tampak bagaikan lautan menguning. Kemarau panjang mencapai puncaknya di bulan Oktober. Kondisi alam yang menantang ini menjadi rutinitas bagi sebagian penduduk di Pulau Sumba, yang mengandalkan penghidupan mereka sebagai penggembala. 


1.1.1.4. Sapi Hereford

Sapi ini turunan dari sapi Eropa yang dikembangkan di Inggris, berat jantan rata-rata 900 kg dan berat betina 725 kg. Bulunya berwarna merah, kecuali bagian muka, dada, perut bawah dan ekor berwarna putih. Bentuk badan membulat panjang dengan ukuran lambung besar. Sebagaian sapi bertanduk dan lainnya tidak. 

1.1.1.5. Shorthorn

Sapi ini sama dengan Hereford yaitu dikembangkan di negara Inggris. Bobot sapi jantan 1100 kg dan sapi betina 850 kg. bulunya berbintik merah dan putih. Bentuk tubuh bagus dengan punggung lurus. Pertumbuhan ototnya kompak. Sebagian sapi bertanduk pendek, tetapi kebanyakan tidak bertanduk. 

1.1.1.6. Brangus
Sapi Brangus merupakan persilangan sapi betina Brahman dan pejantan Angus. Ciri khasnya adalah warna hitam dengan tanduk kecil. Sifat Brahman yang diwarisi brangus adalah adanya punuk, tahan udara panas, tahan gigitan serangga dan mudah menyesuaikan diri dengan pakan yang mutunya kurang baik. Sedangkan sapi Angus yang diturunkan produktifi tas dagingnya tinggi dan persentase karkasnya tinggi.

1.1.1.7. Aberden Angus

Sapi angus (Aberden Angus) berasal dari Inggris dan Skotlandia. Sapi ini tidak memiliki tanduk umur dewasa sapi Angus adalah 2 tahun, hasil karkas tinggi, sebagai penghasil daging dan tidak digunakan untuk menghasilkan susu.
Anak sapi ukurannya kecil sehingga induk tidak banyak mengalami banyak stres pada saat melahirkan pedet. Untuk memperbaiki genetik sapi angus sering di kawin silangkan dengan sapi lain, misalnya sapi Brahman. Hasil persilangan disebut Brangus (Brahman Angus). Contoh gambar sapi Angus jantan tertera pada gambar 11. Di Indonesia sapi angus di perkenalkan pada tahun 1973 dari Selandia Baru di di beberapa tempat di Jawa Tengah. Ciri sapi ini berbulu hitam legam, berukuran agak panjang, keriting dan halus. Tubuhnya kekar padat, rata, panjang dan ototnya kompak. Sapi tidak bertanduk dan kakinya pendek. Berat sapi jantan 900 kg, sedangkan betina 700 kg. persentase karkas 60%, dengan mutu daging sangat baik dan lemak menyebar dengan baik di dalam daging.



1.1.1.8. Santa Gertrudis

Sapi ini persilangan dari sapi jantan Brahman dengan sapi betina Shorthorn, dikembangkan pertama kali di King Ranch Texas AS tahun 1943 dan pada tahun 1973 masuk ke Indonesia. Bobot.jantan rata-rata 900.kg dan bobot betina 725.kg. Badan sapi besar dan padat, Seluruh tubuh dipenuhi bulu pendek dan halus serta berwarna merah kecoklatan, Punggungnya lebar dan dada berdaging tebal, Kepala lebar, dahi agak berlekuk dan mukanya lurus, Gelambir lebar berada di bawah leher dan perut, Sapi jantan berpunuk kecil dan kepalanya bertanduk. Berat sapi jantan mencapai 900 kg sedang betina 725 kg. Dibanding sapi Eropa sapi Santa Gertrudis mempunyai toleransi terhadap panas yang lebih baik dan pakan yang sederhana dan tahan gigitan caplak. 

1.1.1.9. Droughmaster

Merupakan persilangan antara betina Brahman dengan jantan Shorthorn, dikembangkan di Australia. Banyak dijumpai di peternakan besar di Indonesia. Sifat Brahman lebih dominan, badannya besar dan otot padat. Warna bulu merah coklat muda hingga merah atau cokelat tua. Pada ambing sapi betina terdapat bercak putih. Contoh gambar sapi Droughmaster .

1.1.1.10. Australian Commercial Cross (ACC)
Sapi Australian Commercial Cross (ACC) yang digunakan sebagai sapi bakalan pada usaha penggemukan sapi di Indonesia merupakan hasil persilang- an sapi-sapi di Australia yang tidak diketahui dengan jelas asal usul maupun proporsi darahnya. Dari beberapa informasi yang telah ditelusuri, diketahui bahwa sapi ACC berasal dari peternakan sapi di Australia Utara (Northern Territory).
Sapi ACC tersebut dapat berupa sapi Shorthorn Cross (SX), Brahman Cross maupun sapi hasil persilangan sapi-sapi Australia yang cenderung masih mempunyai darah Brahman (Ngadiyono, 1995). Meskipun demikian pengamatan terhadap sapi-sapi bakalan ACC yang diimpor ke Indonesia menunjukkan bahwa secara fenotipik, karakteristik fi sik sapi ACC lebih mirip sapi Hereford dan Shorthorn yakni tubuh lebih pendek dan padat, kepala besar, telinga kecil dan tidak menggantung, tidak mempunyai punuk dan gelambir, kulit berbulu disekitar kepala, pola warna bervariasi antara warna sapi Hereford dan Shorthorn (Hafi d, 1998).
Menurut Australian Meat and Livestock Corporation (1991), sapi ACC merupakan campuran dari Bos Indicus (sapi Brahman) dan Bos Taurus (Sapi British, Shorthorn dan Hereford), sehingga sapi ini mempunyai karakteristik menguntungkan dari kedua bangsa tersebut, yaitu mudah beradaptasi terhadap lingkungan sub optimal seperti Brahman dan mempunyai pertumbuhan yang cepat seperti sapi British. Hafi d dan Hasnudi (1998) telah membuktikan bahwa sapi bakalan ACC yang kurus jika digemukkan singkat (60 hari) akan sangat menguntungkan sebab sapi ini menghasilkan pertambahan bobot badan harian ±1.61 kg/hari dengan konversi pakan 8.22 dibandingkan jika digemukkan lebih lama (90 atau 120 hari).
Beattie (1990), menyatakan bahwa Northern Territory, Kimberley dan Quensland merupakan tempat pengembang an sapi ACC di Australia yang memiliki sapisapi Eropa antara lain Shorthorn dan Hereford serta sapi India (Zebu) yaitu sapi Brahman. Program ini telah menghasilkan beberapa bangsa hasil persilangan seperti Santa Gertrudis, Braford, Droughmaster dan sapi-sapi persilangan lain yang masih mempunyai darah Brahman.
Sapi Shorthorn berasal dari Inggris dan merupakan tipe daging dengan bobot jantan dan betina dewasa masingmasing mencapai sekitar 1.000 kg dan 750 kg (Pane, 1986). Sifat yang menonjol yaitu temperamen yang baik dan pertumbuhan yang cepat pada pemeliharaan secara feedlot (Blakely dan Bade, 1992).
Sapi Shorthorn dimasukkan ke Australia pada abad ke 19. Kemudian di CSIRO’S Tropical Cattle Research Centre di Rockhampton disilangkan dengan sapi Hereford dan menghasilkan sapi Hereford Shorthorn (HS) dengan proporsi darah 50% Hereford dan 50% Shorthorn (Turner, 1977; Vercoe dan Frisch, 1980).


1.1.1.11. Sapi Brahman Cross
Minish dan Fox (1979) menyatakan bahwa sapi Brahman di Australia secara komersial jarang dikembangkan secara murni dan banyak disilangkan dengan sapi Hereford Shorthorn (HS). Hasil persilangan dengan Hereford dikenal dengan nama Brahman Cross (BX). Sapi ini mempunyai keistimewaan karena tahan terhadap suhu panas dan gigitan caplak, mampu beradaptasi terhadap makanan jelek serta mempunyai kecepatan pertumbuhan yang tinggi.
Menurut Turner (1977) sapi Brahman Cross (BX) pada awalnya dikembangkan di stasiun CSIRO’S Tropical Cattle Research Centre di Rockhampton Australia. Materi dasarnya adalah sapi American Brahman, Hereford dan Shorthorn. Sapi BX mempunyai proporsi 50% darah Brahman, 25% darah Hereford dan 25% darah Shorthorn. Secara fi sik bentuk fenotif sapi BX lebih cenderung mirip sapi American Brahman karena proporsi darahnya yang lebih dominan, seperti punuk dan gelambir masih jelas, bentuk kepala dan telinga besar menggantung. Sedangkan pola warna kulit sangat bervariasi mewarisi tetuanya.
Sapi Brahman Cross (BX) memiliki sifat-sifat seperti: persentase kelahiran 81.2%, (2) rataan bobot lahir 28.4 kg, bobot umur 13 bulan mencapai 212 kg dan umur 18 bulan bisa mencapai 295 kg, (3) angka mortalitas postnatal sampai umur 7 hari sebesar 5.2%, mortalitas sebelum disapih 4.4%, mortalitas lepas sapih sampai umur 15 bulan sebesar 1.2% dan mortalitas dewasa sebesar 0.6%, (4) daya tahan terhadap panas cukup tinggi karena produksi panas basal rendah dengan pengeluaran panas yang efektif, (5) ketahanan terhadap parasit dan penyakit sangat baik, serta (6) efi siensi penggunaan pakan terletak antara sapi Brahman dan persilangan Hereford Shorthorn (Turner, 1977).
Menurut Winks et al. (1979), jantan kebiri sapi BX di daerah tropik Quensland secara normal performansnya di bawah bangsa sapi eropa. Pada lingkungan beriklim sedang, steer sapi Hereford lebih cepat pertumbuhannya dibandingkan sapi BX. Lebih lanjut dijelaskan, pada bobot hidup fi nishing yang sama produksi karkas sapi BX lebih berat dibandingkan sapi Frisian karena memiliki persentase karkas (dressing percentage) yang lebih tinggi. Bobot karkas sapi Shorthorn terletak antara sapi Brahman dan Hereford. Persentase karkas sapi Hereford lebih rendah dibandingkan sapi BX dan lebih tinggi dibandingkan sapi Frisian. Karkas sapi Frisian memiliki persentase tulang lebih tinggi dibanding kan sapi Shorthorn dan BX. kadar lemak bervariasi mulai dari 4.2% sampai 11.2%, terendah pada sapi Frisian dan tertinggi pada Shorthorn.
Di Indonesia, sapi BX diimpor dari Australia sekitar tahun 1973 namun penampilan yang dihasilkan tidak sebaik dengan di Australia. Hasil pengamatan di ladang ternak Sulawesi Selatan memperlihatkan:
• persentase beranak 40.91%,
• calf crop 42.54%,
• mortalitas pedet 5.93%,
• mortalitas induk 2.92%,
• bobot sapih umur 8-9 bulan 141.5 kg (jantan) dan 138.3 kg (betina),
• pertambahan bobot badan se-belum disapih sebesar 0.38 kg/hari (Hardjosubroto, 1984; Ditjen Peternakan dan Fapet UGM, 1986).
Sebagian besar sapi di Australia merupakan sapi American Brahman dan Santa Gertrudis yang di impor dari Amerika. Persilangan antara kedua bangsa sapi ini dengan sapi Zebu menghasilkan bangsa sapi yang sama dengan sapi American Brahman dan Santa Gertrudis yakni Brangus dan Braford. Persilangan lebih lanjut menghasilkan sapi Droughtmaster yang merupakan hasil persilangan dengan komposisi darah 3/8-5/8 darah Zebu utamanya American Brahman yang di impor dari Texas (Payne, 1970). Sementara sapi Brangus mempunyai komposisi darah 5/8 Angus dan 3/8 Brahman (Minish dan Fox, 1979). 


1.1.1.13. Sapi Simmental
Sapi simental berasal dari Swiss, dipublikasikan pertama kali pada tahun 1806. Pemanfaatan sapi Simental untuk produksi susu, mentega (butter), keju dan daging serta dimanfaatkan untuk hewan penarik beban. Pada awal 1785
parlemen Swiss membatasi ekpor sapi Simental karena mereka kekurangan sapi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kemudian sapi disebar pada 6 benua. Jumlah sapi Simental diperkirakan sekitar 60 juta ekor.
Pada tahun 1990 bulu sapi Simental berwarna kuning, merah dan putih. Pada dewasa ini kebanyakan berwarna hitam. Peternak berkeyakinan sapi hitam mempunyai harga yang lebih baik. Sapi Simental adalah jenis sapi jinak dan mudah untuk dikelola, dan dikenal.


1.1.1.12. Sapi Limousin

Sapi Limousine merupakan keturunan sapi eropa yang berkembang di Perancis. Tingkat pertambahan badan yang cepat perharinya 1,1.kg. Contoh sapi Limousine tertera pada gambar 15. Ukuran tubuhnya besar dan panjang serta dadanya besar dan berdaging tebal. Bulunya berwarna merah mulus. Sorot matanya tajam, kaki tegap dengan warna pada bagian lutut kebawah berwarna terang. Tanduk pada sapi jantan tumbuh keluar dan agak melengkung. Bobot sapi jantan 850 kg dan betina 650 kg.
dengan pola daging yang ekstrim. Sapi yang asli badannya besar dengan tulang iga dangkal, tetapi akhir-akhir ini ukuran sedang lebih disenangi. Sapi jantan beratnya 1000 sd 1400 kg, sedang betina 600-850 kg. masa produktif sapi betina antara 10-12 tahun.
Sapi Simental dikembangkan Indonesia tahun 1985 melalui semen beku yang dikawinkan dengan sapi PO. Anak sapi yang berumur 2 bulan pertumbuhannya pesat sekali. Sapi berumur 23 bulan dapat mencapai bobot 800 kg dan pada umur 2,5 tahun mencapai 1.100 kg. Di Jawa sapi Simental dikawinkan dengan sapi Friesian Holstein, untuk mendapatkan sapi yang performasinya lebih baik. Perkawinannya dilakukan dengan cara IB, dimana semen yang di pilih sudah diketahui jenis kelaminnya. Anak simental yang dikehendaki adalah yang jantan, karena jika betina produksi susunya dan dagingnya kurang baik.


1.1.1.14. Sapi PO
Sapi Peranakan Ongole (PO) merupakan persilangan antara sapi Ongole dengan sapi-sapi lokal yg ada di Jawa dan Sumatera. Ponok dan gelambir kelihatannya kecil atau tidak ada sama sekali. Warna bulu sangat bervariasi, tetapi pada umumnya berwarna putih atau putih keabu-abuan. Banyak terdapat di pulau Jawa terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur.

1.1.2. Sapi Tipe Pekerja
Sapi-sapi yang di masukkan dalam kelompok sapi tipe pekerja pada umumnya mempunyai tubuh  yang besar, perototannya kuat, tulangnya kuat dan besar serta tidak ada pelekatan lemak dibawah kulit. Mempunyai kulit kuat dan tahan terhadap berbagai cuaca. Sapi-sapi asli dari Indonesia pada umumnya termasuk dalam kelompok sapi tipe pekerja, sebagai contoh sapi bali, sapi madura dan sapi grati.
1.1.2.1. Sapi Bali 

 Ditinjau dari sistematika ternak, sapi Bali masuk familia Bovidae, Genus bos dan Sub-Genus Bovine. yang termasuk dalam sub-genus tersebut adalah; Bibos gaurus, Bibos frontalis dan Bibos sondaicus, sedang Williamson dan Payne menyatakan bahwa sapi Bali (Bos-Bibos Banteng) yang spesies liarnya adalah banteng termasuk Famili bovidae, Genus bos dan sub-genus bibos. Sapi Bali mempunyai ciri-ciri khusus antara lain; warna bulu merah bata, tetapi yang jantan dewasa berubah menjadi hitam. Satu karakter lain yakni perubahan warna sapi jantan kebirian dari warna hitam kembali pada warna semula yakni coklat muda keemasan yang diduga karena makin tersedianya hormon testosteron sebagai hasil produk testis. Sapi Bali merupakan sapi asli Indonesia, yang didomestikasi dari spesies banteng (Bibos Banteng).

Tujuan utama pemeliharaan digunakan sebagai penghasil daging, kerja penarik bajak, dan kultur sosial lainnya. Sampai saat ini telah di distribusikan pada 22 propinsi. Warna sapi jantan adalah merah kecoklatan, dengan warna putih pada sekitas pantat. Sedangkan sapi betina kuning kemerah-merahan sampai coklat dengan warna putih pada sekitas pantan dan paha. Bentuk tanduk pada sapi jantan berbentuk U.
Menurut Hardjosubroto (1994) bahwa ada tanda-tanda khusus yang harus dipenuhi sebagai sapi Bali murni, yaitu warna putih pada bagian belakang paha, pinggiran bibir atas, dan pada paha kaki bawah mulai tarsus dan carpus sampai batas pinggir atas kuku, bulu pada ujung ekor hitam, bulu pada bagian dalam telinga putih, terdapat garis belut (garis hitam) yang jelas pada bagian atas punggung, bentuk tanduk pada jantan yang paling edial disebut bentuk tanduk silak congklok yaitu jalannya pertumbuhan tanduk mula-mula dari dasar sedikit keluar lalu membengkok keatas, kemudian pada ujungnya membengkok sedikit keluar.
Pada yang betina bentuk tanduk yang ideal yang disebut manggul gangsa yaitu jalannya pertumbuhan tanduk satu garis dengan dahi arah kebelakang sedikit melengkung kebawah dan pada ujungnya sedikit mengarah kebawah dan ke dalam, tanduk ini berwarna hitam.


1.1.2.2. Sapi Madura


Sapi Madura merupakan hasil persilangan sapi Bali (Bibos banteng), sapi Ongole (Bos indicus) dan sapi Jawa (bos javanicus). Warna sapi merah kecoklatan tanpa warna putih di pantat. Keseragaman jenis sapi telah dikembangkan oleh orang madura. Secara umum tubuh kecil dan berkaki pendek. Sapi jantan mempunyai punuk yang berkembang baik dan jelas, sedangkan sapi betina tidak berpunuk. Sumber : Ensiklopedi Wikipedia, 2007
Pada kepala terdapat tanduk kecil, melengkung ke depan dan melingkar seperti bulan sabit. Bobot sapi jantan 300 kg dan sapi betina 250 kg. berat pedet pada waktu lahir 12-18 kg. umur dewasa kelamin 20-24 bulan. Pertambahan berat badan 0,25-0,6 kg per hari. Persentase karkas 48-63% dan perbandingan daging tulang adalah 5,84 :1. Sapi Madura banyak digunakan untuk lomba pacuan sapi yang dikenal dengan karapan sapi. 


1.1.3. Sapi Tipe Perah
Sapi perah adalah sapi-sapi yang mempunyai kemampuan memproduksi air susu dalam jumlah yang cukup banyak. Sapi perah pada umumnya mempunyai bentuk tubuh bagian belakang melebar kesegala arah sehingga terdapat kebebasan untuk pertumbuhan ambing atau mempunyai bentuk trapesium. Jenis sapi perah antara lain:
1.1.3.1. Sapi FH

Sapi FH sangat populer sebagai sapi perah. Pertama dibawa dari pulau Fries Land barat Belanda dan sebagian dari Australia serta Selandia baru, Amerika, Kanada, dan Jepang. Warnanya putih dan hitam dan sangat disukai peternak.
Sapi FH memiliki performansi yang baik sebagai penghasil daging dan susu. Distribusinya sebagian di dataran tinggi (700 m di atas permukaan laut) dengan temperatur antara 16-23o C, lembab dan basah di pulau Jawa.
Sapi Holsteins dapat dikenali dengan cepat dari warnanya yaitu putih dan hitam/merah serta produksi susunya yang tinggi. Berat pedet yang baru lahir dapat mencapai 45 kg, berat dewasa dapat mencapai 750 kg dengan tinggi 58 inchi.
Sapi dara dapat dikawinkan pada umur 15 bulan, jika berat badan sudah mencapai 400 kg, diharapkan umur pada waktu pertama kali melahirkan antara 24-27 bulan. Lama kebuntingan sekitar 9 bulan. Dengan lama produksi sekitar 6 tahun. Produksi susunya di Amerika 8.000 liter dengan lemak 330 kg  dan protein 275 kg per ekor per tahun. Di Indonesia produksi susu masih rendah, pertahun berkisar 3.000 liter.
 

1.1.3.2. Sapi Grati
Sapi grati merupakan hasil persilangan sapi FH dengan sapi Jawa-ongole. Sapi Grati dikembangkan di dataran rendah di daerah Grati, Jawa Timur. Populasi sapi Grati sekitar 10.000 ekor.
 

1.1.3.3. Sapi Jersey

Sapi Jersey berasal dari pulau Jersey di Inggris, digunakan sebagai penghasil susu. Ukuran sapi kecil berkisar 360 sampai 540 kg untuk sapi betina dan 540 sd 820 kg untuk sapi pejantan. Kandungan lemak susu pada susu sapi jersey tinggi. Jenis sapi ini belum ada di Indonesia. Warna sapi bervariasi dari abu-abu terang sampai hitam. Paha, kepala dan bahu sapi warnanya lebih gelap daripada warna tubuhnya. Sumber: Wikipedia, 2007
 

1.1.3.4. Sapi Sahiwal Cross 
Habitat asli sapi Holstein di Holland memang beda dengan kondisi Indonesia. Kondisi disini mencakup: iklim, fauna dan vegetasi sebagai pensuplai nutrisi (pakan). Holstein murni memang kurang nyaman bila dipaksa tinggal dan bermukim di negeri kita. Kalau dipaksa, tentu bisa bertahan hidup, karena Holstein memang punya daya adapatasi yang cukup baik.   
Untuk di Indonesia, sapi perah biasanya dipelihara dengan penyediaan pakan yang tidak maksimal. Penyediaan rumput berkualitas rendah tidak cukup untuk mensuplai kebutuhan energi untuk hidup pokok. Setelah kebetuhan hidup pokok terpenuhi maka ternak baru akan menggunakan suplai energinya untuk memproduksi susu. Jadi ada korelasi yang sangat signifi kan antara pakan dan poduksi susu disamping dukungan faktor genetik. Max Dowell, ahli genetik sapi perah dari Cornell menyarankan, sapi perah yang cocok dengan iklim Indonesia dengan mengawinsilangkan sapi FH dengan sapi perah daerah tropis, misalnya sapi sahiwal dari India.
Kapasitas produksi Holstein silangan ini tentu tidak sebagus Holstein aslinya, tapi sapi hybreed ini kampiun dalam mempertahankan diri terhadap sengatan panas dan kelembaban yg tinggi, tahan terhadap serangan serangga dan parasit.
Mikroba rumen yang hidup di dalamnya juga mampu mencerna vegetasi yang khas untuk daerah tropis, yang notabene mengandung serat kasar dan lignin yang tinggi. Ukuran tubuhnya yang lebih ramping, juga lebih pas untuk daerah tropis.
Berat sapi dewasa sekitar 300-400 kg, berat lahir 18-23 kg. Produksi susu pertahun 1.800 kg, dengan lama laktasi 220 hari, dewasa kelamin pada umur 16 bulan.

Kompor BIOGAS dari Kompor Gas LPG

Wednesday, March 30, 2011 / No Comments
Hidup Harus Kreatif, Aktif dan Inovatif, apalagi bagi petani kecil didusun terpencil didesa khsusnya Desa Lokapksa dengan segenap permasalahan hidup yang ada, mulai dari himpitan perekonomian hingga krisis energi dan lain sebagainya. Tidak terkecuali bagi kami anggota Kelompok Ternak Pucak Manik yang ber ternak Sapi Bali, kini merupakan salah satu proyek percontohan Pemerintah Provinsi Bali dalam sistem pertanian terintegrasi yang di bali lebih dikenal dengan istilah SIMANTRI atau Sistem Management Pertanian Terintegrasi dalam rangka mewujudkan Visi Bali Organik, Bali Clean, Bali Green dan Bali Mandara, harus mampu menyiasati hidup ini.

Melalui program SIMANTRI yang telah diluncurkan dengan adanya unit reaktor biogas sebagai energi alternatif di kelompok kami, dengan disertai asessories berupa kompor biogas 3 buah dan kantung biogas 5 buah, maka kami telah mencoba mengembangkan ide kreatif kami dengan mengolah ban bekas truck/mobil untuk dijadikan kantung biogas.
 

Kini petani semakin sadar akan manfaat penting pengolahan kotoran sapi menjadi biogas, beberapa petani telah memanfaatkan biogas di masing-masing rumah mereka dengan mencharge ban bekas untuk membawa biogas dari reaktor di kandang ke rumah mereka.
Permasalahan yang ada yakni pengembangan kompor biogas untuk semua anggota kelompok, jika kini hanya ada 3 kompor bantuan ditambah dengan 2 kompor swadaya kelompok berarti dibutuhkan sekitar 20 kompor biogas. jika 1 unit kompor biogas harganya Rp. 250.000/unit maka dibutuhkan uang sebanyak Rp. 5 juta, nah bayangkan betapa mahalnya biaya yang dibutuhkan. Untuk itu timbulah ide kreatif petani miskin dan tua dengan memanfaatkan kompor LPJ bantuan pemerintah untuk dimodifikasi menjadi kompor biogas.

Adapun Langkah-langkah untuk memodifikasi adalah sebagai berikut :
1. Siapkan Kompor LPG Bantuan Pemerintah

 
Inilah Wajah asli kompor LPG Conversi dari minyak tanah ke gas bantuan pemerintah dalam bentuk bantuan  gratis. Kwalitasnya Lumayan untuk model gratisan. heee...!, jika ini kita bedah maka komponen kompor akan terlihat seperti pada gambar disebelah kanan.

2. Lakukan pembongkaran, kemudian kita ambil bagian Dudukan Burner kompor tersebut, seperti pada gambar berikut :

Setelah itu atur bagian penutup /pengaturan pencampuran sirkulasi udara (Primary air opening) yang terletak pada bagian belakang dudukan burner kompor LPG tersebut.


3. Pada bagian Injector Jet atau Spuyer gas, Lakukan pengeboran dengan menggunakan bor besi dengan diameter 1,5 mm sampai dengan 2 mm. dengan ini akan selesai proses modifikasi kompor LPG, dan kompor tersebut tinggal dipasang kembali komponen yang dimodifikasi tersebut dan telah siap digunakan untuk kompor biogas.

4. Tinggal Pasang Selang Biogas, nyalakan kemudian buat air hangat untuk secangkir kopi bersama anggota kelompok.


Selamat Mencoba, Bagi kelompok yang telah ada reaktor biogasnya tetaplah kreatif,  Selalu berswadaya di kelompok, Kantong tebal, apa yang menjadi tujuan simantri tetap berjalan dari hulu hingga hilir, Jangan patah Semangat walaupun tidak dapat juara dalam lomba SIMANTRI, yang penting Tetaplah KREATIF, AKTIF dan INOVATIV dibandingkan dapet Juara tapi Kandang kotor, Bio urine  terbengkalai dan sampai bercampur TAI, Biogas Tidak dimanfaatkan/dimanfaatkan saat kunjungan pejabat akan datang, serta kelompoknya BODO xixixixi

Catatan & Renungan Akhir Tahun 2010

Thursday, December 30, 2010 / No Comments
Kami Kelompok Ternak Pucak Manik sebagai Kelompok Tani Ternak Sapi Bali, yang kini merupakan salah satu proyek percontohan Pemerintah Provinsi Bali dalam sistem pertanian terintegrasi yang di bali lebih dikenal dengan istilah SIMANTRI atau Sistem Management Pertanian Terintegrasi dalam rangka mewujudkan Visi Bali Organik, Bali Clean, Bali Green dan Bali Mandara, setiap akhir tahun berkewajiban memberikan gambaran pembangunan kelompok kepada anggota kelompok sesuai dengan amanat AD/ART kelompok berupa Catatan Pembangunan Kelompok dan laporan Pertanggung jawaban Tahunan Kelompok.

Rapat Anggota Tahunan ini disamping sebagai wujud tanggung jawab pengurus juga sebagai bentuk transparansi pengurus kepada anggota kelompok serta sebagai ajang menyerap informasi, kritik dan saran dalam pembangunan kelompok kedepan yang akan dituangkan dalam Program Kerja Kelompok baik jangka panjang maupun jangka pendek.
Sebagai Tanggung Jawab Pengurus dalam moment RAT kali ini kami melaporkan berbagai aspek tidak hanya dari sisi keuangan kelompok, diantaranya :
1. Laporan Aset dan Kekayaan Kelompok
2. Pelaksanaan Program dan Pencapaian Program Pembangunan Kelompok
3. Deraf Rencana Pembangunan Kelompok
4. Catatan-catatan Pelaksanaan Kelompok 


Dalam pelaksanaan Pembangunan Dikelompok pada tahun ini jelas tercapai peningkatan pembangunan, hal ini terlihat nyata dari sisi aset kelompok yang semakin meningkat, penyempurnaan beberapa Administrasi dan System Administrasi Kelompok baik buku keuangan maupun Non keuangan, ketersediaan aturan dasar AD/ART, dan keberhasilan penyusunan Awig dalam kelompok, secara managgerial dan administrasi akan terus ditingkatkan kedepan, sejalan dengan pembangunan Maind Set dan SDM pengurus.
Dari sisi Pengetahuan Anggota Kelompok / SDM anggota kelompok terus meningkat, hal ini terbukti dengan Bintek yang telah diberikan dari berbagai pihak terkait, pemahaman konsep pertanian dengan teknologi tepat guna. disamping SDM kesejahteraan petani sudah semakin dirasakan oleh anggota kelompok walaupun belum begitu besar, namun gambaran perekonomian kedepan sudah dirasakan akan semakin meningkat, terbukti dengan penadapatan dari pupuk organik padat, dan pupuk organik cair dari BIO-URINE sapi-sapi mereka, tersedianya energi alternatif dari BIO GAS.
Dulu petani menjual Kotoran sapi mentah/belum di fermentasi dengan harga Rp. 2500/Kampil dengan berat kira-kira 25 kg, kini petani menjual kotoran yang di fermentasi dengan harga Rp. 1000/Kg atau Rp. 25.000/Kampil berat 25kg.
Dulu petani tidak mengenal BIO-Urine, kini BIO-Urine dari sapi bali dikumpulkan dan dijadikan pupuk organik cair, dijual dengan harga Rp. 1000/liter (curah/belum termasuk kemasan).
Dulu petani tidak mengenal BIOGAS, kini petani telah mengenal Biogas dan merasakan manfaatnya langsung untuk memasak dan lampu penerangan. petani tidak lagi ikut-ikutan membabat hutan untuk kayu bakar dapur mereka. Hebat bukan...! INILAH SIMANTRI.
Mungkin banyak lagi cerita yang belum bisa kami sampaikan, dengan ini kami mengharapkan kedatangan pembaca ke kelompok kami dan mendengarkan langsung cerita-cerita dari petani tua di desa kami.

Sebagai Bahan Renungan, kami kutip sebuah kalimat penuh makna dari seorang penulis yang bernama "GEORGE CARLIN" berikut :

Paradox of Our Time
The paradox of our time in history is that we have taller buildings but
shorter tempers, wider freeways, but narrower viewpoints. We spend more, but  have less, we buy more, but enjoy less. We have bigger houses and smaller families, more conveniences, but less time. We have more degrees but less sense, more knowledge, but less judgment, more experts, yet more problems, more medicine, but less wellness.
We drink too much, smoke too much, spend too recklessly, laugh too little,
drive too fast, get too angry, stay up too late, get up too tired, read too
little, watch TV too much, and pray too seldom.
We have multiplied our possessions, but reduced our values. We talk too
much, love too seldom, and hate too often. We’ve learned how to make a
living, but not a life. We’ve added years to life not life to years. We’ve
been all the way to the moon and back, but have trouble crossing the street
to meet a new neighbour. We conquered outer space but not inner space. We’ve
done larger things, but not better things. We’ve cleaned up the air, but
polluted the soul. We’ve conquered the atom, but not our prejudice. We write
more, but learn less. We plan more, but accomplish less. We’ve learned to
rush, but not to wait. We build more computers to hold more information, to
produce more copies than ever, but we communicate less and less.
These are the times of fast foods, and slow digestion, big men and small
character, steep profits and shallow relationships. These are the days of
two incomes but more divorce, fancier houses, but broken homes. These are
days of quick trips, disposable diapers, throwaway morality, one night
stands, overweight bodies, and pills that do everything from cheer, to
quiet, to kill. It is a time when there is much in the showroom window and
nothing in the stockroom. A time when technology can bring this letter to
you, and a time when you can choose either to share this insight, or to just
hit delete.
Remember, spend some time with your loved ones, because they are not going
to be around forever. Remember, say a kind word to someone who looks up to
you in awe, because that little person soon will grow up and leave your
side. Remember, to give a warm hug to the one next to you, because that is
the only treasure you can give with your heart and it doesn’t cost a cent.
Remember, to say, “I love you” to your partner and your loved ones, but
most of all mean it. A kiss and an embrace will mend hurt when it comes from
deep inside of you. Remember to hold hands and cherish the moment for
someday that person will not be there again. Give time to love, give time to
speak, and give time to share the precious thoughts in your mind.
Life is not measured by the number of breaths we take, but by the moments that take our breath away.

Awig Simpan Pinjam Kelompok

Saturday, December 18, 2010 / No Comments
Didalam kehidupan sosial kemasyarakatan di Bali pada umumnya tidak terlepas dari konsep "Tri Hita Karana", Pengertian Tri Hita Karana adalah tiga hal pokok yang menyebabkan kesejahteraan dan kemakmuran hidup manusia. Konsep ini muncul berkaitan erat dengan keberadaan hidup bermasyarakat di Bali yang mana keharmonisan hubungan antara manusia dengan tuhan, manusia dengan alam dan antar sesama manusia itu sendiri. Perpaduan tiga unsur itu secara harmonis sebagai landasan untuk terciptanya rasa hidup yang nyaman, tenteram dan damai secara lahiriah maupun bathiniah. Seperti inilah gambaran kehidupan sosial kemasyarakatan di Bali yang berpolakan Tri Hita Karana.

Didalam  kelompok keberadaan Awig sangatlah diperlukan sebagai salah satu landasan hukum tertulis yang ada di dalam sebuah kelompok.  dalam penyusunan awig hendaknya mengacu pada aturan dasar dalam sebuah negara dan tidak bertentangan dengan hirarki aturan perundang-undangan dasar yang telah ada, falsafah negara, nilai-nilai agama, norma dan AD/ART kelompok yang telah ada.
Dengan mengacu kepada amanat visi dan misi kelompok yakni :
VISI :
“Peningkatan Kesejahteraan Anggota Kelompok Ternak Pucak Manik Dengan Berlandaskan Konsep Tri Hita Karana”
MISI :
Meningkatkan Seradha Bhakti Kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa, dengan dilandasi oleh semangat rasa persaudaraan antar anggota kelompok, didalam menggali segenap potensi diri dan alam sekitar kita dengan konsep berwawasan lingkungan, dalam mencapai kesejahteraan bersama.
Maka yang menjadi salah satu program pembangunan kesejahteraan bersama kelompok adalah pembangunan ekonomi kelompok dan anggota kelompok sangatlah penting tercapai, untuk itu Kami Kelompok Ternak Pucak Manik sebagai Kelompok Tani Ternak Sapi Bali, yang kini merupakan salah satu proyek percontohan Pemerintah Provinsi Bali dalam sistem pertanian terintegrasi yang di bali lebih dikenal dengan istilah SIMANTRI atau Sistem Management Pertanian Terintegrasi dalam rangka mewujudkan Visi Bali Organik, Bali Clean dan Bali Mandara, telah berhasil menelorkan Awig Tentang Simpan Pinjam.
Keberadaan awig ini sesuai dengan amanat Visi dan Misi Kelompok, nantinya akan menjadi cikal bakal pembangunan ekonomi kerakyataan yang berbasis pertanian di Desa Lokapaksa dalam bentuk Koperasi Tani kedepan.

Beternak Sapi Bali

Monday, December 13, 2010 / No Comments
Pemerintah Departemen Pertanian Mencanangkan Program Swasembada daging, khusus daging sapi dicanangkan pada tahun 2005. Di Bali Kami Kelompok Ternak Pucak Manik sebagai Kelompok Tani Ternak Sapi Bali, yang kini merupakan salah satu proyek percontohan Pemerintah Provinsi Bali dalam sistem pertanian terintegrasi yang di bali lebih dikenal dengan istilah SIMANTRI atau Sistem Management Pertanian Terintegrasi dalam rangka mewujudkan visi bali organik, bali Clean dan Bali Mandara. 
Bali sebagai salah satu pemasok daging sapi secara nasional, menjadikan komoditi Sapi Bali sebagai komoditi penting bagi daerah lain, disamping bali sendiri mempertahankan Sapi Bali sebagai Plasma Nutfah Asli Indonesia dan menjaga kelestarian sapi bali.
Dalam mempertahankan populasi sapi bali dengan mengupayakan pengendalian pemotongan sapi betina produktif dan pemeliharaan sapi secara intensif dengan memasukkan teknologi tepat guna dan tetap berpedoman pada Sapta Usaha Peternakan.

1. PEMILIHAN BIBIT
Yang harus diperhatikan dalam pemilihan bibit adalah :
- Kondisi Sehat dan kuat
- Badan Lebar dan Dalam
- Pedagingnya Padat dan bentuk badannya kompak
- Ambingnya besar dan simetris, bila diraba terasa lunak
- Puting susunya cukup besar dan letaknya simetris
- Letak kaki belakang lebar dan kuat
- Bulu : bersih mata bercahaya
- Temperamennya aktif, tapi lembut

2. KANDANG

Adapun  Syarat kandang yang baik adalah :
- Cukup mendapat sinar matahari
- Mempunyai saluran pembuangan dan tempat penampungan kotoran yang memadai
- Terbuat dari bahan yang cukup kuat dan tahan lama
- Bila memungkinkan lantai kandang disemen dan diberi alas dengan jerami supaya hangat
- Kandang dilengkapi dengan tempat pakan dan air minum
- Lantai diusahakan agak miring kearah pantat sapi dan usahakan agar selalu kering dan hangat.
- Ukuran Kandang : Untuk 1 ekor Induk : 2 X 1,5 M

3. PAKAN 
Jenis Bahan Pakan yang diperlukan adalah :

pakan Hijauan, yakni bahan yang banyak mengandung serat kasar dengan nilai cerna yang rendah dan cukup protein seperti : Rumput gajah, rumput raja, bengala, setaria, dll. jenis-jenis legum seperti : gamal, turi, serta jenis daun-daunan dan jerami

Pakan hijauan diberikan 10% dari berat badan perhari, hijauan yang diberikan merupakan campuran antara rumput dan kacang-kacangan dengan perbandingan 2/3 bagian rumput, dengan 1/3 bagian kacang-kacangan, diberikan 2-3 kali sehari. 
Pakan penguat/pakan tambahan (kosentrat) yaitu campuran bahan yang disusun sedemikian rupa dan berfungsi untuk melengkapi kekurangan zat-zat makanan lainnya dalam pakan hijauan.
Jerami olahan yaitu jerami yang sudah difermentasi sehingga kadar proteinnya tinggi, cara pengolahan nya :
campurkan bahan-bahan sebagai berikut :
  • Jerami 1 ton dengan kadar air 60%
  • Dedak 6 kg
  • Urea
  • Fermentor Star Bio 2 Kg
Jerami dibeberkan dalam ruangan yang tidak kena sinar matahari langsung setebal 40 cm,  lalu taburi campuran diatas, lakukan berulang sampai jerami dan campuran habis kemudian ditutup dengan terpal. diamkan selama 2 minggu, setelah 2 minggu bongkar dan angin-anginkan, kemudian bisa diberikan pada ternak sapi sebagai pengganti rumput.
contoh pakan penguat tambahan seperti : dedak padi, jagung, bungkil kelapa, sisa sagu, dll. jumlah pemberian 1 % dari berat badan sapi /ekor per hari.

4. PEMELIHARAAN
Metode pemeliharaan sapi berdasarkan tujuan pemeliharaannya yaitu : sapi potong pembibitan, sapi potong kereman, sapi untuk ternak kerja.

4.1 PEMELIHARAAN SAPI POTONG PEMBIBITAN
Selain pemberian pakan yang baik pemeliharaan kesehatan dalam pemeliharaan sapi induk perlu juga diperhatikan sistem perkawinannya sehingga induk dapat melahirkan setiap 12 - 18 bulan.
Pemeliharaan sapi induk bunting faktor pakan dan pemeliharaan sapi harus diperhatikan dengan baik, berikan pakan penguat sebanyak 2-3 kg/ekor/hari + mineral, tempatkan sapi dikandang tersendiri agar sapi merasa tenang, pelihara kebersihan kandang alasi lantainya dengan jerami rumput kering.
Pemeliharaan anakan sapi :
- Setelah anak sapi lahir, segera bersihkan lendir yang menempel pada tubuhnya, terutama bagian hidung dan mulut.
- Potong tali pusarnya dan olesi dengan yodium
- Biarkan anak sapi menyusu pada induknya sampai 4 bulan
- Mulai diperkenalkan dengan kosentrat pada umur 3 bulan

4.2 PEMELIHARAAN SAPI POTONG KEREMAN
Yang perlu mendapat perhatian dalam pemeliharaan sapi potong kereman adalah : memilih sapi untuk dikerem, ada 4 patokan dalam memilih sapi untuk dikerem, diantaranya :
  1. Sapi yang berumur kurang dari satu tahun yang akan diperlukan masa kerem selama 8-12 bulan
  2. Sapi yang berumur 1-2 tahun dengan masa kerem 6-8 bulan
  3. Sapi yang berumur 3 tahun keatas dengan masa kerem maksimal 4 bulan.
Selain dari segi umur, juga perlu dipertimbangkan dari bentuk tubuh sapi yang akan dikerem dapat dipilih sapi kurus tapi bukan karena penyakit, kurus dalam arti kurang makan dan perawatan. berat ideal sapi yang akan dikerem minimal 200kg.
Pemberian Kosentrat berupa dedak padi, UMMB sebanyak 1 Kg/hari akan memberikan pertambahan berat badan rata-rata 500-600 gram/hari.
4.3 PEMELIHARAAN SAPI POTONG UNTUK KERJA
Pada model pemeliharaan ini hendaknya perlu diperhatikan :
Ternak sapi tidak dikerjakan pada waktu tertentu sebagai berikut :
  • Satu Bulan Setelah dikawinkan
  • Dua Bulan Sebelum Melahirkan
  • Satu Bulan Setelah Melahirkan
  • Pengelolaan Reproduksi
Kawainkan sapi betina pertama kali pada umur 15-20 bulan, sedangkan yang jantan pada umur 15-24 bulan.
Bila sapi menunjukkan tanda-tanda birahi, kawinkan sapi dalam rentang waktu 12-18 Jam. perkawinan dinyatakan berhasil bila sapi memperlihatkan tanda-tanda : Tidak muncul birahi pada periode berikutnya, sapi kelihatan lebih tenang, nafsu makan dan minum bertambah, rongga perut bertambah besar.
kebuntingan sapi rata-rata berlangsung selama 283 hari.
 
5. PENGENDALIAN PENYAKIT
Beberapa Jenis Penyakit Yang perlu diwaspadai dalam pengelolaan ternak sapi diantaranya :
5.1. NGOROK ( SE)
Gejala-Gejala :
  1. Demam Tinggi badan lemah dan gemetar 
  2. Banyak Keluar Air Liur
  3. Pembengkakan di leher, pundak kaki depan, dan lidah
  4. penyempitan saluran pernafasan sehingga sulit bernafas.
Pencegahan dengan pemberian Vaksin SE
Pengobatan dengan menggunakan anti biotik dan sulfa

5.2. RADANG KUKU (FOOT ROT)
Gejala-Gejala : 
Pembengkakan pada kuku dan sekitarnya, tumit kuku mengelupas dan timbul bisul, ternak pincang, dan bisa lumpuh
Pencegahan :
lantai kandang harus selalu kering, kuku yang membusuk harus dipotong, dibersihkan dengan larutan betadine dan dibalut, hal ini diulang setiap minggu.

5.3. PERUT KEMBUNG / BLOAT (TYMPANY)
Gejala-Gejala :
Lambung bagian kiri membesar, nafsu makan berkurang atau hilang sama sekali, sapi gelisah, sesak nafas, bila berbaring susah berdiri.
Pencegahan :
jangan terlalu banyak memberikan hijauan yang mengandung air, beri pakan kasar dan jerami kering untuk mengeluarkan gas diberikan larutan gula dan air asam

6. PEMASARAN
Sukses Produksi harus diikuti dengan sukses pemasaran, untuk pemasaran sangat dipengaruhi oleh situasi pasar terutama kebutuhan daging sapi pada menjelang hari-hari raya.


7. PENANGANAN PASCA PANEN
Ada beberapa prinsip teknis yang harus diperhatikan dalam pemotongan sapi agar diperoleh hasil pemotongan yang baik, yaitu:
1. Ternak sapi harus diistirahatkan sebelum pemotongan
2. Ternak sapi harus bersih, bebas dari tanah dan kotoran lain yang dapat mencemari daging.
3. Pemotongan ternak harus dilakukan secepat mungkin, dan rasa sakit yang diderita ternak diusahakansekecil mungkin dan darah harus keluar secara tuntas.
4. Semua proses yang digunakan harus dirancang untuk mengurangi jumlah dan jenis mikroorganisme pencemarseminimal mungkin.
 

PRODUK TAMBAHAN DARI PUPUK
Dalam peternakan sapi, seperti sudah disinggung pada bagian terdahulu, selain daging sebagai main product, dapat juga dihasilkan pupuk sebagai produk sampingan (by-product) nya, yang dapat berupa pupuk cair dan pupuk padat. Kedua jenis pupuk ini dapat digolingkan kepada jenis pupuk organik. Berbagai kelebihan diperoleh dari pupuk organik antara lain :
1. Karena bentuknya cair, aplikasinya lebih mudah, karena bisa dilakukan dengan penyemprotan, dan pada tanaman pohon tidak harus membuat lubang pada tanah.
2. Bahan baku pupuk organik bisa bertambah tidak hanya dari kotoran (faeces) tapi juga dari kencing ternak.
3. Volume penggunaanya lebih hemat dibandingkan pupuk kompos. Untuk tanaman padi, jika pupuk kompos (padat) perhektar memerlukan 2,5 - 5 ton, maka dengan pupuk cair hanya memerlukan 1,2 ton permusim.
Satu ekor sapi memproduksi rata-rata 5 liter urin setiap hari, sehingga instalasi bio urin yang berisi 10 ekor sapi menghasilkan pupuk organik cair sebanyak 500 liter per sekali proses (satu kali proses butuh waktu 10 hari). Dampak aplikasi pupuk organik ini cukup menggembirakan pada tanaman bawang merah. Pada proses produksi pupuk organik cair ini, menggunakan fermentor RB dan Azba produksi BPTP Bali. Demikian halnya dengan kotoran sapi. Untuk menjadi pupuk organik siap pakai secara alami membutuhkan waktu sekitar 2 bulan. Untuk mempercepat proses pengomposan diperlukan fermentor dan tempat fermentasi seperti untuk menghindarkan kompos yang dihasilkan terkena air hujan dan terkena sinar matahari langsung.

Sumber : Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali